“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” Perempuan paruh baya menyapa ramah.
“Halo, saya Dinar, teman lama Sean.” Kujabat tangannya seraya senyum.
Tak berapa lama kemudian, ia membawaku masuk rumah untuk bertemu tuannya.
“Istirahatlah dulu, Mbak. Besok baru bicara dengan nona.” Ia serahkan kunci kamar ke tanganku kemudian berlalu. Aku mencoba menahannya.
“Tunggu, Bu. Katakan sesuatu tentang Sean, kenapa ia tidak menemuiku langsung? Padahal ia yang mengundangku kemari,”
“Sampean capek setelah perjalanan jauh, rehatlah sejenak agar esok hari segar saat bertemu nona, permisi.” Ia meninggalkanku mematung keheranan dan hanya bisa menatap punggungnya menjauh.
Baca juga: Arti Sesak di Dada Fahrie – Cerpen Muhammad Nur Iskandar (Republika, 09 Desember 2018)
Malam merambat lamban. Aku gelisah, berulang kali teleponku ditolak Sean. Keanehan semakin terasa, seakan ada misteri di balik kemegahan rumah ini.
“Kamu di mana? Kalau nggak niat mengundangku di pertunanganmu, please jangan main petak umpet, nggak lucu tahu!” Ucapku jengkel melalui voice audio WhatsApp.
Kututup pintu kamar dan mencari pembantu paruh baya yang tadi menyambutku, tapi tak nampak siapa pun. Tiba-tiba terdengar kekeh tawa seorang perempuan. Kupertajam pendengaran, memastikan ada orang di rumah ini yang bisa kuajak bicara. Suara kekeh tawa itu berasal dari lantai dua. Sebelum memutuskan menaiki tangga spiral setengah memutar yang mencapai lantai kedua, kupastikan keadaan aman, menoleh kiri kanan.
Tak seorang pun bakal memergoki kelancanganku. Perlahan kakiku menjejak tangga demi tangga semakin mendekati asal suara, semakin dekat, bukan hanya kekeh tawa perempuan tapi dialog tak jelas dengan suara sesekali tinggi rendah.
Baca juga: Hikmah – Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 Desember 2018)
Semakin dekat, dadaku semakin berdebar kencang. Suara itu tak asing bagiku, aku yakin yang sedang kutuju adalah Sean. Sampai di pangkal tangga, kudapati beberapa pintu kamar. Sial. suara itu berhenti.
Aku kembali mematung. Menelan ludah, tapi yakin bahwa di salah satu kamar itulah suara Sean berasal. Kakiku melangkah berjinjit, agar tak menimbulkan suara menuju sebuah kamar yang kuduga Sean berada. Sampai berdiri tepat di depan pintu, aku berhenti, gemetar jemari menyentuh hendel.
Kembali dialog tak jelas sayup terdengar, debar jantung makin kencang. Kucoba menekan hendel, tak kusangka, pintu terkuak tanpa dikunci.