Perjalanan ke Malang terasa lebih melelahkan. Ingatanku kembali tapi meninggalkan lubang baru yang mustahil kutambal. Kenangan tak mungkin diulang atau diperbaiki. Sean dan aku…Kehilangan adalah siksa. Setelah kehilangan ibu saat masih SD, ayah menikah dengan tante Rea, adik kandung ibu. Betapa kejam, belakangan kutahu mereka kasmaran sejak ibu masih ada, aku tak percaya cinta dan setia. Bahkan ikatan sakral di bawah nama Tuhan, tidak membuat seseorang setia dengan suka rela.
Kepada Ignas, puing kepercayaan akan entitas cinta mulai terbangun, aku jatuh cinta. Semuskil apa pun kutolak habis-habisan, cinta menyentuh ruang paling pribadiku, hati. Tapi seseorang juga menaruh harapan pada hati yang ingin kurawat.
Baca juga: Seperti Pagi – Cerpen Adi Zamzam (Republika, 05 Agustus 2018)
“Sean baru pertama kali jatuh cinta, jiwanya terguncang saat mengetahui, Ignas mengencanimu. Ketika sadar dari koma, setelah insiden itu ia kehilangan hampir semua dunianya. Dia membuat labirin dengan dunia nyata dan memilih hidup di dunianya sendiri. Kau adalah tamu spesialnya, pertemuan kalian pasti memberi efek besar. Maaf, ternyata kau juga kehilangan banyak…” Penuturan ibu Sean saat mengantarku ke stasiun kereta tadi semakin menyesakkan dada…
“Maafkan aku, Sean…aku bahkan tak ingat secinta apa aku pada Ignas hari itu, karena yang kurasakan hanya kesunyian…”
“Permisi, boleh saya duduk di sini?” Suara seorang lelaki membuyarkan lamunan. Kutoleh tersenyum ramah mengembang begitu saja, namun justru membuatku ingin mati saat ini juga! Sosok itu…nyatakah ia?
“Ig…Ignas…” gumamku tanpa sadar…
Kwai Fong, 12 Februari 2018
Wiji Lestari. Penulis adalah juara pertama anugerah sastra Voice of Indonesia (VOI) RRI 2018. Sebagai buruh migran di Hongkong, penulis aktif menghasilkan karya tulis.