Dunia Sean

Hampir saja aku terlonjak lari ketakutan mendapati sosok bergaun putih dengan rambut terjurai panjang sampai menyentuh lantai, duduk di sofa bulat membelakangi arah pintu. Debarku makin tak beraturan, itukah Sean? Perlahan aku menyusup masuk dan kembali menutup pintu. Aku siap mengambil risiko, andai orang itu bukan Sean.

“Ah…Ignas! Apa hebatnya dia? Kau dan aku sudah dijodohkan, kita ditakdirkan bersama selamanya. Kau tidak amnesia, kan? Jangan biarkan nyamuk nakal menyedot darahmu! Kau pikir apa yang dicari anak miskin dari keluarga berada? Tak lebih uang, Ignas… uang!  Lihat, betapa rendahnya dia!” Penampakan perempuan itu berkata-kata. Sendiri!

Aku terperanjat, keningku berkerut, kutelan ludah susah payah. Sesuatu yang gelap menyergap pikiran, entah apa. Lorong waktu menyeret ke suatu masa seperti pernah kudengar ucapan itu, kapan? Entah! Kupastikan ia Sean, ya sahabat semasa SMA. Oh, apa yang terjadi padamu, Sean?

Baca juga: Paket Terakhir- Cerpen Syahirul Alim Ritonga (Republika, 11 November 2018)

Tanpa sengaja mataku tertumbuk pada sebuah foto dengan frame kayu. Seketika dadaku nyeri bukan main! Sampai aku harus menekannya demi menahan perasaan yang tiba-tiba menggelora. Wajah itu begitu akrab, dia lelaki yang selalu hadir di mimpi-mimpiku, lelaki yang membuatkanku cangkir kopi, yang meninggalkanku tanpa alasan! Slide-slide me mori masa sekolah ha dir silih berganti berke indan di kepala.

Aku, Sean dan le laki itu berangkulan masih mengenakan seragam. Karaoke berjingkarakan dalam mobil. Camping. Api unggun. Lelaki itu memainkan gitar.

Malam. Sesuatu men desis tepat di sampingku! Ular! Mematuk spontan tanpa sempat kumenghindar.

Lelaki itu menyedot darah dari luka gigitan ular di lenganku. Mengikatkan syal miliknya, demi mencegah bisa ular yang tersisa menyebar dalam tubuh.

Oh…kepalaku sakit luar biasa! Bayangan itu melintas lagi.

Lelaki itu merangkul bahuku. Mengecup keningku. Mencium hangat.

Wajah marah Sean. Sebuah tamparan keras di mukaku!

Baca juga: Di Tengah Desing Mesiu – Cerpen Masriadi Sambo (Republika, 04 November 2018)

Pertengkaran mulut lelaki itu dengan Sean. Pertengkaran kami bertiga.

Kepala ini serasa mau meledak! Berdenyut-denyut. Nyeri…

Darah berceceran di aspal. Mayat-mayat. Ambulans. Jalan raya. Kerumunan.

Bus terbalik. Kepalaku berdarah. Aku mencari seseorang…

Sean terkapar. Lelaki itu tergolek berlumur darah… Hidupkah ia? Masih hidupkah ia?

“Tidaaaak!” Jeritku tak kuasa menerima gelombang kejadian masa silam yang begitu ngeri! Tubuhku kehilangan kekuatan, sendi-sendi melemah dengan sendirinya, luruh, terduduk tanpa sadar.

Kupegang erat kepalaku yang terasa sakit, sakit!

Arsip Cerpen di Indonesia