Dunia Sean

Oh…kepalaku sakit…nyeri hati ini mendengarnya, benarkah aku sejahat itu? “Aku sudah memaafkanmu, Ignas juga…” Suaranya kembali di tekan seperti boneka hidup.

“Kalau benar, lalu di mana Ignas sekarang? Ignas yang kau maksud pasti bukan boneka itu!”

Ia mendekat, membelai pipiku yang masih terasa panas oleh tamparannya. Diam-diam aku bergidik ngeri, Tuhan, tolong aku…

“Dia ada di kamar ini, kami bercinta sepanjang waktu, kami saling mencintai…tentu saja, kami saling mencintai…” Ia terkekeh panjang.

Baca juga: Haji Manap – Cerpen Faruqi Umar (Republika, 29 Juli 2018)

Bulu romaku meremang…kuamati ruangan bernuansa klasik dominan warna putih. Ada banyak foto lelaki bernama Ignas. Foto semasa mengenakan seragam abu putih. Kenapa tak ada fotonya setelah masa itu? Kemana sebenarnya lelaki itu? Ia menjelma terus dalam mimpiku. Oh!

“Kau penyebabnya! Rusak semua rencana kami!”

“Plakk-plakk” kembali tamparan mendamprat wajahku, ia puaskan dendam.

Kali ini aku tak tinggal diam, kujambak rambutnya dan kutubruki tubuhnya.

Ia mencakar pipiku hingga robek berdarah! Kubalas menamparnya karena aku tidak punya kuku panjang untuk balas mencakar.

Saling hantam, saling jambak, saling pukul. Dalam duel itu, kutahankan sakitnya kepalaku yang rasanya nyaris meledak bersama datangnya memori demi memori. Paska pertengkaran di Gunung Semeru, aku dan Sean tak saling menyapa. Sedangkan Ignas terus menggenggam jemariku selama perjalanan pulang dengan bis pariwisata. Entah berapa lama perjalanan berlangsung, hingga sebuah kecelakaan maut mengubah segalanya… Bis itu menghantam pembatas ja lan, hari naas yang merenggut banyak nyawa.

Baca juga: Tendangan Dua Belas Pas – Cerpen Zaenal Radar T (Republika, 15 Juli 2018)

“Sadar, Sean! Sadar! Ignas tidak pernah ada! Kau berhalusinasi selama ini! Bangun dari mimpi panjang, Sean! Dia sudah lama meninggalkan kita! Kenapa kau tidak mau menerima kenyataan?!” Teriakku seraya terus mengentak-entak tubuhnya. Baris kata yang harusnya juga pantas kuterima.

“Kaulah yang mengambilnya! Kau iblis!” Ia terus menyerangku.

Duel terus berlangsung, tanpa kutahu untuk memenangkan apa. Sampai kaki-kaki tiga orang dewasa, sekelebat menyeruak di antara panasnya kontak fisik kami. Dua orang lelaki, bersama pembantu paruh baya itu

“Hentikan, kalian!”

Aku terduduk lemas, dengan segala kesakitan…perih merajam batin.

***

Arsip Cerpen di Indonesia