“Kau!” Perempuan itu menolehku terenyak, rupanya jeritanku mengejutkannya. Ia mendekatiku dengan langkah gemulai menyerupai hantu, “Darling…Dinar, kau menemukanku? Kupikir kau akan pulang.” Dia berkata dengan suara yang ditekan aneh, seperti suara boneka, lalu terkekeh.
Aku terpana, berkecamuk perasaan meremas jantungku…Sean…apa yang terjadi? Apa yang tersembunyi dari masa lalu kita?
“Kenapa begini, Sean? Ada apa sebenarnya?!”
“Oh, tunggu sebentar, ya” Ia meninggalkanku, tak sampai lima menit kemudian ia datang bersama sebuah manequin seukuran tubuh pria dewasa. Mataku menatap manequin yang di bawanya ke hadapanku. Wajah itu…
Baca juga: Pertunjukan Monolog – Cerpen Latif Fianto (Republika, 28 Oktober 2018)
Manequin berwajah lelaki penyuka seni tembikar yang kukenal! Lelaki dalam foto itu, lelaki yang sama hadir dalam kenangan dan mimpiku! Yang wajahnya lekat tapi namanya tak sanggup kuingat.
“Sayang, beritahu dia, kita sudah memaafkannya. Dia datang untuk merestui pertunangan kita,” Sean berkata dengan mesra pada boneka itu! ‘Sayang?’
Pedih…tak sanggup kuhentikan isakku. Tuhan…
“Bagaimana kau lupa apa yang terjadi, Dinar?” Kepalanya miring dengan raut misterius, sekejap kemudian air mukanya berubah sinis.
“Kau jahat!” Ia menghujat. “Kau bukan sahabat baikku! Kau iblis betina!” Serunya mulai kalap.
Katakan terus, agar aku ingat apa yang terjadi…
Baca juga: Kupu-Kupu Bersayap Elang – Cerpen Shinta Putri Wulandari (Republika, 14 Oktober 2018)
“Kuberikan semuanya padamu, semuanya…bahkan aku mengalah dalam setiap olimpiade sekolah, agar kau maju. Tapi tidak, tidak perasaanku, Dinar, tidak!”
Agresif tangannya mencengkeram rahangku, memaksa menatap matanya. Garang. Kudapati kemarahan di sana, juga dendam yang dalam, sejumput kesepian berkilat samar, jika aku tak salah duga.
Plakk!Plakk! Tamparan keras menghajar pipiku dua kali! Panas.
“Apa salahku, padamu? Apa yang sudah kulakukan? Apa hubungannya dengan lelaki itu?” Gigilku, pedih.
Ia menatapku aneh, lalu menyeringai.
“Kau tidak berpura-pura, bukan? Bagaimana mungkin kau lupa padahal kau penyebab semua yang terjadi?! Apa Tuhan sudah menghukum dengan mencabut ingatan mu?! Hahaha, pantas saja kau terlihat tolol! Bahkan kau tidak tergetar sedikit pun, saat kusebut nama Ignas yang mencintaiku, tapi berhasil kau rampas!”