Lokalitas Manusia Madura

Oleh Ahmad Khoiri (Jawa Pos, 03 Maret 2019)

Celurit Hujan Panas ilustrasi Istimewa.jpg
Celurit Hujan Panas ilustrasi Istimewa 

Perempuan, kekerasan, tanah warisan, dan mitologi: semua premis itu jalin-jemalin dalam buku ini dan melukiskan konstruksi sosio-kultural masyarakat Madura.

***

SALAH satu asumsi umum tentang Madura adalah keberbedaannya dari daerah kepulauan lainnya. Kendati Nor Hasan (2010) mengang gap Madura sebagai “ekor Jawa”, struktur sosiokultural keduanya tetaplah berbeda.

Bahwa tatanan sosial di Madura masih berpusat terhadap nilai (valuecentris) adalah sesuatu yang tidak dapat disangkal. Tapi, itu perlu dipahami sebagai ciri khas Madura. Lokalitas kemudian mengambil rupa dalam pelbagai pola hidup masyarakat Madura itu sendiri.

Rupa-rupa pola hidup demikian di narasikan Zainul Muttaqin dalam kumpulan cerpennya, Celurit Hujan Panas. Buku setebal 150 halaman itu menggambarkan manusia Madura secara utuh dari aspek sosio-kulturalnya. Lebih spesifik, Muttaqin menarasikannya sebagai pihak insider, dari pengalamannya sendiri.

Mengambil latar di tempat kelahirannya, Batang-Batang, Sumenep, Muttaqin secara apik menampilkan karakteristik manusia Madura. Semua cerpen dalam buku itu berangkat dari beberapa premis; perempuan, kekerasan, tanah warisan, dan mitologi. Semua premis itu cukup me lukiskan konstruksi sosio-kultural masyarakat Madura.

Premis-premis tersebut jalin-jemalin satu sama lain. Potret perempuan terkisahkan dalam lima cerpen yang seluruhnya potensial memantik terjadinya kekerasan di Madura. Muttaqin memotret budaya patriarki yang meletakkan perempuan sebagai kelas dua (second sex) dan menjadi musabab terjadinya carok—kekerasan dominan di Madura.

Tokoh Nur dalam “Gadis Pesisir” yang terbengkalai pendidikannya, Asna sebagai “Perempuan Lètèr” yang menjadi sumber kecemburuan, hingga Marni dalam cerpen “Bulan Celurit” yang memantik carok antara Gani dan Muhni merupakan bukti konkret kesinambungan persoalan perempuan dengan kekerasan.

Arsip Cerpen di Indonesia