Sagu Rumbio I; Sagu Rumbio 2; Selembar Daun Randan // Dari Gang yang Masih Becek Itu; Seseorang Menulis tentang Kematian

Puisi-puisi Ramoun Apta dan Agit Yogi Subandi (Kompas, 02 Maret 2019)

Harmony ilustrator Jae Fahru - Kompasw.jpg
Harmony ilustrator Jae Fahru/Kompas 

Sagu Rumbio I

 

Aku tebang batang nimbio di belakang rumah

Aku belah hingga rekah.

 

Cangkang batang aku buang,

Inti dalam aku cineang.

 

Lengkung kayu itu

Berbunyi retak di udara.

 

Aku peras cincangan itu dengan air kolam

Sampai lepas luluk putih dari seratnya.

 

Aku diamkan sampai luluk itu berpisah dengan air

Menumpuk di kedalaman.

 

Perlahan pasta putih bertumpuk bagai

Sampah masyarakat di sudut pasar tradisional.

 

Aku keruk ia dengan bibir tempurung

Lalu aku jemur di bawah panas berdengkang.

 

Sampai keriting ia bagai

Gelombang galau laut.

 

Aku tumbuk ia dalam lesung kayu

Lalu aku tiriskan ke dalam nampan.

 

Debu-debu halus itu

Lantas aku berikan padamu.

 

Kau menerimanya bagai batang pisang

Menerima ulat menggerogoti daun.

 

Kau butub itu, katamu, untuk memasak

Ongol-ongol sagu rumbio untukku.

 

Ongol-ongol itu kau persembahkan

Untuk pesta ulang tahunku yang ke-72.

 

Arsip Cerpen di Indonesia