Sagu Rumbio I; Sagu Rumbio 2; Selembar Daun Randan // Dari Gang yang Masih Becek Itu; Seseorang Menulis tentang Kematian

Dari Gang yang Masih Becek Itu

Harmony ilustrator Jae Fahru - Kompasw
Harmony ilustrator Jae Fahru/Kompas 

Dugaan apa lagi yang hendak kita sebarkan?

Di remang gang yang berangin dan becek

Ranting dan daun tangkil sedang melanjutkan

Percakapan yang abadi. Seekor kutilang

Mengundang laras senapan angin di tubuhnya.

Ingin disimpannya proyektil senapan itu

Di dalam jantungnya.

Menghapus prasangka

Yang terus menjalar di relung otaknya:

“Usia tua yang menakutkan!” ujarnya,

Sambil mengibaskan bulunya yang ditetesi

Sisa hujan yang tergelincir dari daun-daun

Tangkil itu. Wajahnya yang lebam, bulu-bulunya

Yang basah meruncing ke arah matahari, terus

Tenggelam dan menyisakan hari ini di matanya.

Malam akan mengembalikan geliat cinta

Yang tanpa tujuan. Isyarat yang ambigu

Serta kecemasan yang seperti angin. menggapai

Sayapnya yang terlambat mengejar pagi.

Hingga matahari pagi yang basah itu mulai

Mengiris matanya melalui titik-titik air,

Menggelinding ke lubang-lubang cacing

Seekor burung baru belajar terbang, memukul

Suara yang mulai pikun tentang jalan pulang

Dari gang yang dipenuhi daun-daun yang mulai

Keriput ini, Tuban, dugaan apa lagi yang hendak

Kami sebarkan? Malam membeku di sudut gang.

 

2018

Arsip Cerpen di Indonesia