Jadi, sekarang kami memilih melakukan penanganan secara metafisik. Awalnya aku yang sudah menginjak umur 22 tahun setelah Januari mendatang, merasa ragu dengan ide tabu itu. Aku ingat, kakak adalah orang yang sangat baik hati dan dermawan. Dulu, waktu kecil kakak pernah tak sengaja mencolok mataku saat bermain perang-perangan. Lalu dia menjadi orang yang sering mengucapkan maaf saat mentraktirku makan dengan uang sakunya.
Sementara itu, adikku yang berumur 18 tahun adalah seorang feminin yang cerdas dan pandai bergaul. Bagiku, hampir mustahil kalau kakak dan adikku punya musuh, apalagi sampai nekat mengirim benda gaib semacam itu.
“Kalian yakin, tak ada orang yang pernah kalian sakiti?” Pertanyaan Pak Ahmad itu ditujukan kepada kami. Aku dan adikku menggeleng setelah menyelisik peristiwa di kepala kami, tapi Ayah dan Ibu seperti memintal sesuatu.
***
Beberapa bulan yang lalu, ayah diminta datang ke balai desa untuk menjelaskan laporan gugatan tanah Pak Awi. Tentu awalnya mereka tak mau memperkeruh keadaan hanya karena permasalahan kecil yang menjadi bumerang sendiri untuk Pak Awi. Ayah punya segala berkas kuat yang ditandatangani langsung oleh mendiang Pak Suroto yang menjual tanahnya untuk kami, sedangkan Pak Awi sebagai penggugat, mengira-ngira saja. Tapi pria berkelulusan SD itu merasa kuat dengan tuduhannya, sampai berani ditembuskan langsung ke kepala desa.
“Jadi, bagaimana masalahnya?” Seorang pria berkumis tebal menyambut kedagangan ayah. Dia adalah Pak Sukanta, kepala desa kami.
Ayah kemudian menjelaskan kronologi yang terjadi. Ternyata waktu itu ibu sedang memasak tumis kacang panjang favorit kami. Aroma cabai, bawang merah, merica, dan rempah-rempah yang digoreng, menjadi unggunan asap yang membakar mata dan penciumannya sehingga dibukalah jendela rumah agar aroma pedas itu pergi.
Di sisi lain, pada waktu yang sama, Pak Awi baru pulang dari sawah, kerutan wajahnya menunjukkan kelelahan. Ia berjalan agak terhuyung membawa sekarung padi di samping rumah dan tak sengaja menyundul jendela kami yang terbuka.
Bletaaaakkk! Dug!
“Bangsat! Siapa yang membuka jendela sembarang?” Teriaknya dengan nada kasar. Ternyata desas-desus yang mengatakan kalau Pak Awi orang yang keras adalah benar. Bahkan sebagai orang yang lebih tua, ia sampai berani memasuki rumah dan mengomel ngalor ngidul. Kami cukup mendengarkan dan tak mau memperpanjang masalah, sehingga di sela-sela rentetan emosi yang dilemparkan. Kami terus meminta maaf, akhirnya ocehan itu sampai pada, “Kalau bukan karena bapakku, kau tidak akan punya rumah barang cuma satu jengkal, lagi pula kau sudah mengambil tanah hakku di samping rumahmu, aku tuntut kau nanti.”