Malam berikutnya aku bermimpi lebih panjang dengan perempuan jelita itu. Lagi-lagi ia tersenyum memandang dengan tatapan yang berarti. Ia menghampiriku yang kuyup diguyur hujan. Daun-daun mendesir di bawah langit dan angin mengibaskan rambutnya yang kelam. O, perempuan berwajah merah jambu, ia telah sampai di samping telingaku untuk berbisik setelah beberapa kali menghitung langkah tanpa jejak.
“Perjalananmu masih panjang. Kalau mau, aku akan membantumu mengakhiri semuanya,” ujarnya dengan suara berbisik.
Aku tak mengerti maksudnya, tapi dia memang perempuan yang cantik, aku sudah menyimpan hati kepadanya sejak pertama bertemu, bahkan sekadar dalam mimpi. Beberapa kali ia melirik jariku seperti sebelumnya.
“Ada apa dengan jariku?” Tanyaku kemudian.
“Aku ingin menggigitnya lagi demi menuntaskan sebuah janji.”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, kita akan menikah setelah aku menggigit dua jarimu lagi.”
Lalu ia menyentuh lenganku dengan ayunan yang halus dan menggigit kelingkingku. Kemudian beralih ke jari manis dan ia kembali tersenyum. Lagi-lagi aku terbangun setelah itu. Bedanya kali ini, terbangun dengan menyentuh leher ibuku yang sudah tak benyawa. Aku mundur beberapa langkah dengan perasan kalut dan tak sengaja menginjak sesuatu, ia adalah jasad adikku yang juga tak bernyawa. Mereka semua tewas dan tak ada kesedihan sedikit pun. Yang kutahu, kuku-kuku jari kiriku telah penuh bercak-bercak darah yang dibiarkan kering di dekat bekas sengatan keris yang panas itu. (M-2)
Banten, 24 Januari 2019