Benda Gaib

Awalnya kami mengira kalau itu gertakan saja, ternyata pria berkulit hitam gelap itu serius melapor ke Pak Sukanta. Bapak kepala desa mulai mengelus kumisnya. “Apa ada yang bisa dijadikan barang bukti, seperti surat kepemilikan tanah?”

Ayah kemudian menunjukkan semuanya, sementara Pak Awi duduk menahan malu. Tatapannya tajam mengiris mata ayah. Ia menahan dendam yang bergolak di hatinya. Dendam yang mungkin lebih besar dan berbahaya dari taring sebuah bukti yang menggugurkan gugatannya.

***

“Sudah selesai,” kata Pak Ahmad kemudian, “orang yang berbuat seperti ini merasa dirinya dizalimi sehingga ia berusaha membalas, tetapi biarkan. Setelah perkara selesai, biasanya orang itu akan sakit, lalu menerima risiko yang diterima pengirim semestinya, benda gaib berupa keris berkelamin wanita itu, juga mungkin warisan dan pelaku bisa mengirim sendiri, sebab ia sudah lama menjadi benda gaib yang diisi kekuatan kanuragan oleh tuannya. Kalau beli dan meminta bantuan dukun untuk mengirim, mungkin harganya bisa mencapai Rp 30 juta.”

Kemudian benda gaib yang sekarang ‘kosong’ itu, akhirnya kami simpan di lemari. Kata Pak Ahmad, keris itu sekarang hanya benda biasa yang bisa digunakan sebagai pajangan. Tak ada kekuatan gaib di dalamnya. Beberapa hari kemudian, setelah kejadian itu, Pak Awi meninggal dunia. Tak ada yang tau penyebab kematiannya. Yang jelas, kami menjadi semakin yakin kalau selama ini memang dialah yang mengirim benda gaib ke rumah kami.

Akhirnya kami hidup tenang. Adikku tak lagi mengalami hal buruk apa pun. Tapi akhir-akhir ini, aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Setiap terlelap di malam hari. Aku selalu bermimpi duduk di sebuah batu besar, dengan seorang perempuan yang tiba-tiba datang. Bajunya putih tipis dengan rambut berurai sebatas bahu, aku tak ingat detail wajahnya. Tapi dia punya senyum yang manis. Kadang perempuan berkaki jenjang itu suka berlaku manja padaku. Mencium tanganku layaknya seorang istri pada suaminya dan menggigit jariku tiba-tiba. Saat itulah aku terbangun.

Bekas gigitannya masih terasa ketika ibu teriak di kamarnya. Aku langsung berlari ke sana. Rupanya ayah tak sadarkan diri di ranjang, matanya terbelalak dengan mulut berbusa. Setelah kuperiksa denyut nadinya dengan penuh kegamangan, ayah ternyata sudah tidak ada di dunia. Suasana duka menyelimuti rumah kami. Tapi anehnya hanya aku yang tidak menangis, aku merasa puas dengan kematian ayahku sendiri. Gigitan halus perempuan itu masih terasa di telunjuk tangan kiriku sampai sekarang.

***

Arsip Cerpen di Indonesia