Nawang Wulan dalam Pelukan

Dua tahun sudah aku menggelandang di ibu kota. Nebeng tidur dan numpang makan di rumah kerabat. Satu ketika, ada seorang guru mengaji yang menawarkan tempat berteduh. “Setidaknya sampai kamu punya rumah,” kata dia.

Abah, begitu aku memanggilnya dan orang-orang di lingkungan rumahnya. Ia peranakan Arab Betawi. Disegani karena pandai mengaji. Abah tidak punya pesantren. Hanya langgar kecil tempatnya sehari-hari menghadiahkan ilmu yang diwarisinya dari ayahanda.

“Nak, kamu mau menikah dengan kemenakan Abah?” tanya Abah tiba-tiba di suatu sore jelang berbuka puasa Senin-Kamis. Aku tidak bisa menolak. Pernikahan pun digelar. Hanum nama kemenakan Abah. Cantik layaknya perempuan keturunan Timur Tengah. Kerudung merah yang tidak sempurna menutupi wajah tirusnya. Sayangnya belum tumbuh cinta di hatiku yang hampir mati meski ijab kabul sudah digelar.

Setelah tujuh bulan bersama, baru aku tahu jika Hanum ternyata primadona di kampung. Tak sedikit pemuda kampungnya yang berebut memiliki pesona Hanum. “Kamu beruntung bisa menikahi Hanum,” kata pengojek sepeda yang kutumpangi saat berangkat kerja.

Kukulum senyum. Ah, apa aku benar-benar beruntung, tanyaku kepada hati.

Tiga tahun aku menyulam rumah tangga. Tapi buah hati yang kunanti tidak kunjung tiba. Tak ada tanda-tanda dari Hanum. Sampai suatu ketika seorang kemenakanku berkunjung ke rumahku yang sederhana. “Paman kenapa murung?” tanya dia menerka.

“Paman ingin punya anak, punya keturunan. Tapi bibi kamu belum hamil-hamil.”

“Sabar, Paman. Mungkin belum waktunya.”

Obrolan ringan yang didengar Hanum itu ternyata berdampak besar. Sejak itu perangai Hanum berubah. Ia sering marah tak jelas.

Melayani sehari-hari seperti sekadar membuatkan kopi pun tak pernah lagi di lakukannya. Perubahan perangainya membuatku bingung. Sampai satu hari aku menemui satu lembar obat berwarna merah muda dari dalam tasnya. Ukurannya lebih kecil dari kancing baju anak sekolah. Pil KB.

Rupanya selama ini dia sengaja minum pil tersebut agar tidak hamil setiap kali berhubungan. Dan yang lebih menyakitkan, aku baru tahu ternyata dia tidak menginginkanku jadi suaminya.

Dia menudingku ingin menikah lagi. Di hadapan keluarganya dan Abah, ia memaksa aku menjatuhkan talak. Alasannya sederhana, aku ingin menikah lagi karena Hanum tidak bisa memberikan keturunan.

Arsip Cerpen di Indonesia