Ternyata begini sensasi jadi Jaka Tarub. Diam-diam menikmati kecantikan Dewi Nawang Wulan yang mungkin saat masih cetak biru di surga saja sudah cantik. Teramat cantik. Rasanya menyesal pernah mengutuki Jaka Tarub, pemuda dalam legenda yang aku cap berengsek karena mengintip bidadari mandi.
Kini aku seolah menjadi Jaka Tarub. Aku menjadi pengintip. Ekor mataku berkali-kali menoleh ke wajah gadis yang duduk anggun memakai gaun putih berkerah dengan salur garis hitam tipis. Kulitnya putih. Wajahnya membulat. Pipinya gembil. Hidungnya mungil, dan ia membiarkan rambut sebahu terurai. Bibir tipisnya terus mengatup. Hingga aku memberanikan diri memulai pembicaraan.
“Kenalkan, aku Nursi,” kataku dengan gesture percaya diri sembari menyodorkan tangan.
Dia menoleh. Gerakan kepalanya yang perlahan semakin membuatnya kian gemulai. Wajahnya kaku tanpa senyum. Tapi ia tetap cantik.
Mati aku. Dia tidak membalas uluran tanganku, batinku berbisik.
Tiga detik yang mematikan itu berubah, saat otot bibirnya tertarik hingga membuat pipi gembilnya semakin kenyal. Sepertinya. “Sarah,” ujar dia sembari mengulurkan tangan.
Pembicaraan pun mengalir. Tak hanya wajahnya yang teduh, sikapnya juga ramah. Kami berbicara banyak. Dari pembicaraan itu mencerminkan kecerdasan pikirannya. Cantik, ramah, cerdas. Aku jadi membayangkan Dewi Nawang Wulan yang saban hari menemani Jaka Tarub.
Empat setengah jam perjalanan di dalam kereta kami lahap dengan perbincangan tanpa jeda. Hingga kereta bergebong tua memasuki stasiun legenda, Jatinegara.
“Boleh aku tahu alamat rumahmu?” kususun kalimat tanya itu hati-hati. Perlahan-lahan, agar jangan sampai permintaan gilaku tertolak mentah-mentah.
“Jatinegara, dekat Pasar Mester,” ucap Sarah sembari mencoretkan alamat lengkap di selembar kertas bekas dan memberikannya kepadaku. Kuraih dan kusimpan di kantong jaket.
“Kamu dijemput siapa?” tanyaku ketika kami berdiri di dekat pintu keluar stasiun.
Sarah tidak menjawab dengan kata-kata. Telunjuknya menunjuk seseorang berpakaian militer. Perwira menengah sepertinya.
“Mas,” teriaknya sembari melambaikan tangan. Sebelum pergi, Sarah pamit ke padaku. Kami bersalaman, lalu ia melayang ringan seperti angin musim semi.