Kereta angin buatan Belanda aku parkir di depan rumah Sarah. Rumah sederhana. Pagar besi beralur tombak, kokoh membentengi rumah dengan atap asbes. Jam tangan otomatis merek Titus di pergelanganku berhenti di angka empat. Sudah sore. Tapi belum terlalu petang untuk bertamu, pikirku.
“Assalamualaikum… Permisi,” kataku di depan pintu pagar. Kuulangi sampai dua kali. Seperkian menit kemudian, pria bertubuh tegap keluar dari dalam rumah yang pintunya tidak tertutup. Pria dengan wajah yang sama saat menjemput Sarah di Stasiun Jatinegara. Gagah, layaknya tubuh tentara. Wajahnya seperti aktor Abdul Hamid Arief.
“Mau cari siapa, Mas?” suara baritonnya membuat lamunanku buyar. Pria itu berjalan mendekat ke pagar. Kini kami berdiri berhadapan dan hanya dibatasi pintu besi.
“Oh maaf, Pak. Saya Nursi. Saya mencari Sarah. Boleh saya bertemu?” tanya saya dengan hati-hati. Sedikit terbata.
Raut wajah pria itu berubah. Ia kaget. Sudah barang tentu. Itu semua terlihat dari alis matanya yang naik dan kulit keningnya yang mengkerut. Mungkin ia berpikir, siapa laki-laki yang nekat dan berani-beraninya mendatangi istri seorang tentara ke rumah. Tapi ia membukakan pintu pagar yang ternyata tidak terkunci. Aku dipersilakan masuk.
“Temannya Sarah? Silakan masuk. Saya Yatmo,” kata dia sembari menjabat tanganku. Genggamannya keras.
Baru tiga langkah aku menginjak pekarangan rumah itu, dua anak kecil yang kutaksir berusia enam dan sembilan tahun menghampiri pria itu. “Panggil ibu kalian, suruh buatkan minum. Ada tamu,” katanya. Perintah pria itu membuat dadaku berdekup. Mati aku.
Dua anak kecil itu menggeret tangan seorang perempuan dari dalam ruang tengah. Sarah keluar dari dalam ruangan yang tersekat lemari pajangan berbahan kayu. Sarah sore itu memakai blus warna biru di bawah lutut. Ayu. Wajahnya beringsut terkejut saat mengetahui siapa tamu yang datang. Tapi tak lama ia tersenyum.
“Kamu. Nur..Nursi.”
Bersamaan dengan itu, seseorang di belakang Sarah yang membawa dua buang cangkir putih susu di atas nampan datang dengan tersenyum. (*)
Karta Raharja Ucu. Penulis adalah wartawan Republika. Bisa dihubungi lewat akun Instagram: @kartaraharjaucu.