Nawang Wulan dalam Pelukan

Batinku hendak berontak, tapi aku tahan. Kegagalan lagi-lagi berada di depan mata. Rapat keluarga itu pun berakhir ricuh. Tapi hanya Hanum saja yang ricuh. Abah tetap bijak. Ia juga baru tahu kemenakannya ternyata diam-diam sudah punya kekasih sebelum menikah denganku.

Dulu Hanum menerima pinangan Abah karena rasa segan. Tapi Hanum tidak menyangka akan dinikahkan dengan pria asing yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.

“Semua keputusan ada di tanganmu, Nak,” ucap Abah bijak. “Putuskan yang menurutmu baik. Shalat istikharah bila perlu.”

Beberapa bulan sebelum peristiwa Malari meledak, aku putuskan untuk melepas Hanum.

***

Cinta kini bagiku hanya legenda. Seperti cerita Sangkuriang yang menendang perahu lalu menjelma menjadi gunung. Atau seperti kisah Jaka Tarub yang berhasil menikahi bidadari, setelah melakukan perbuatan tak terpuji.

Mengintip bidadari mandi di air terjun tempat pelangi mendaratkan ekornya. Mengintip gadis manusia mandi saja sudah terkutuk, apalagi dia yang mengintip lalu menyita selendang bidadari. Mahluk suci dari kahyangan. Parah sekali kelakuan Jaka Tarub itu.

Imajinasi di kepalaku menerka-nerka seberapa cantik wajah Dewi Nawang Wulan yang membuat Jaka Tarub kehilangan akal sehat. Bentuk wajahnya, mata, hidung, bibir, lalu mahkota di atas rambutnya. Terlebih bentuk tubuhnya. Mungkin lebih aduhai dari Diana Nasution, penyanyi yang sedang digandrungi pria seantero Indonesia.

Ku susun baik-baik sketsa wajah Dewi Nawang Wulan yang kata orang-orang amat sangat teramat cantik. Ketika goresan sketsa itu hampir rampung, bahuku tersenggol secara tak sengaja. Lamunanku buyar. Aku saat itu duduk di pinggir bangku kereta menuju Jakarta. Tidak dekat jendela. Dan yang menyenggol bahuku tersenyum.

“Maaf,” katanya singkat. “Bangku aku di sini. Boleh aku duduk di dekat jendela.”

Detik itu aku seperti tahu bagaimana rasanya Malin Kundang menjadi batu saat dikutuk ibunya. Kaku. Sketsa dalam kepalaku kini berbicara. Sketsa bidadari yang kugambar dalam imajinasi kini hidup dan berdiri anggun di hadapanku. Sketsa Dewi Nawang Wulan. Bidadari itu bukan di kahyangan, tapi di dalam kereta.

“Silakan,” kataku sembari berdiri memberi ruang untuknya.

Kursi kereta yang kutumpangi kali ini seperti menjelma menjadi tumpukan bebatuan. Di ujung kanan dan kiri berbagai jenis pepohonan rimbun bergelantungan. Sementara di ujung lintasan mataku ada seorang bidadari yang sedang asyik duduk bermain di bawah guyuran air terjun. Dia sendirian, tidak ditemani enam saudaranya yang lain.

Arsip Cerpen di Indonesia