Nawang Wulan dalam Pelukan

Aku kembali menjadi Malin Kundang. Mematung. Di ujung sana kulihat Sarah memeluk pria itu. Sarah mencium tangannya. Takzim. Tak hanya sekali, tapi dua kali. Punggung tangan lalu telapaknya. Pria itu kemudian menghujani pipi Sarah dengan ciuman. Tanpa malu di depan banyak orang. Harapanku hilang sudah. Pupus. Kisah Jaka Tarub memang hanya legenda.

***

Satu pekan sudah aku berpisah dengan Dewi Nawang Wulan yang turun dari kereta. Bau harum minyak wanginya masih tersisa di ujung hidungku. Aku berkencan dengan ingatan. Setangkup rindu merambat pelan merambat ke dalam dada. Setidaknya matahari lebih paham cara berpamitan. Membiarkan pengagumnya menikmati keindahannya perlahan-lahan di batas perpisahan. Ah mengapa aku ini. Aku jatuh cinta kepada perempuan yang hanya kutemui empat setengah jam di atas kereta. Gilanya perempuan itu memiliki pasangan. Entah kekasih, atau mungkin suami.

Adakah pekerjaan yang paling puitis selain berlari mengejar-ngejar rindu? Jawabnya ada, yaitu mengingat lesung pipi saat Sarah tersenyum. Aku raba kantong jaket katun biru dongker yang selalu kupakai ketika berpergian. Jemari tanganku menemukan sesuatu. Selembar kertas bekas. Kubuka, lalu untaian huruf-huruf membentuk sebuah kata yang bersalin menjadi kalimat, lalu menjelma menjadi alamat. Alamat rumah. Rumah Sarah.

Kini aku kembali merasakan girangnya menjadi Jaka Tarub. Kertas itu bagaikan selendang Dewi Nawang Wulan yang disimpan Jaka Tarub diam-diam. Kertas itu bagai minyak kesturi yang disuntikkan ke dalam lampu minyak yang nyala apinya hampir padam. Api harapan.

Batinku berperang. Tetap simpan alamat itu, atau buang ke dalam Sungai Ciliwung yang kini ada di hadapannya. Sarah sudah berpasangan. Tapi tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kemungkinan selalu ada, meski sangat kecil peluangnya. Aku harus memastikan siapa pria itu.

Nekat, kupacu sepeda kumbang pinjaman dari kakakku. Alamat yang ditulis Sarah tidak jauh dari tempat aku kini berdiri. Hari Ahad. Semoga Sarah ada di rumah, gumamku sembari berharap.

Sepeda kumbang merek Gazelle itu kukayuh perlahan. Pasar Mester terlewati. Aku hafal betul jalan itu karena saban hari aku melewati untuk pergi ke kantor. Setelah perempatan jalan, aku belokkan sepeda ke kanan. Lalu gang ketiga atau keempat setelah perempatan itu adalah gang rumah Sarah. Aku menerka-nerka. Akhirnya ketemu.

Arsip Cerpen di Indonesia