Mayat tanpa Bola Mata

Mendapati dua kasus ini memiliki satu kesamaan yang mencolok, yakni kosongnya rongga mata korban, media tentu saja terpancing untuk membahas kasus ini secara lebih mendalam. Pihak kepolisian sendiri, dalam jumpa pers yang digelarnya beberapa hari setelah korban kedua ditemukan, menjelaskan bahwa penelusuran yang tengah mereka lakukan benar-benar intens, tetapi mereka masih belum juga sampai pada penjelasan yang memadai soal mengapa dan bagaimana bisa sepasang bola mata kedua korban itu hilang. Terkait dengan hal ini seorang kriminolog ternama, di sebuah acara unjuk-wicara di televisi nasional, mengatakan bahwa pelaku sangat mungkin bukan individu, melainkan sistem; ini karena sulit dibayangkan seseorang, tanpa bantuan siapa pun, memiliki alat yang dapat digunakan untuk mengambil bola mata tanpa meninggalkan bekas luka dan noda darah.

Tanggapan yang lebih menarik (baca: liar) datang dari warganet. Banyak di antara mereka yang secara sukarela mengikuti kasus ini menawarkan pembacaan bernuansa fiksi-ilmiah atau fiksi-fantasi, seperti bahwa si pelaku bukanlah manusia, melainkan malaikat kematian atau alien, atau manusia yang karena satu dan lain hal telah berevolusi menjadi bukan-manusia, menjadi organisme yang lebih canggih dari manusia; mereka bahkan membuat situs-situs web tersendiri untuk menampung-dan menampilkan-setiap informasi dan pembacaan lainnya tentang kasus ini. Sebagian di antaranya, memanfaatkan antusiasme warganet ini untuk mengeruk keuntungan finansial, seperti membuat video-video penelusuran amatiran ke lokasi kedua korban ditemukan, bahkan juga ke tempat-tempat yang sering dikunjungi korban semasa hidupnya, lantas menayangkan video-video tersebut di kanal YouTube mereka.

Ketika korban ketiga ditemukan, sekitar satu bulan kemudian, pembahasan mengenai kasus ini di dunia maya semakin ramai, dan semakin liar. Muncul teori-teori konspirasi bahwa dalang di balik kasus misterius ini sesungguhnya adalah pemerintah, bahwa pemerintah secara diam-diam membentuk sebuah organisasi rahasia yang tujuannya menciptakan ketakutan secara berkala di masyarakat, yang dengan ini mereka bisa memperkuat posisi mereka sebagai pelindung dan penguasa-kebetulan pemilu akan dilangsungkan tahun depan. Tentu saja ini hanya sebatas teori, tapi bukannya tanpa pengaruh: perlahan-lahan fokus perhatian media massa pun mulai bergeser dari semula mencari tahu bagaimana korban-korban itu kehilangan bola mata mereka ke bagaimana kasus ini berdampak pada realitas yang berlangsung di negeri ini, khususnya di Kota A di mana korban-korban itu ditemukan. Sementara itu, pihak kepolisian sendiri tampak mulai lesu dan kehilangan muka; temuan-temuan dari penelusuran intensif mereka paling jauh hanya sampai pada algoritma pelaku dalam memilih target, itu pun masih sebuah dugaan yang kurang meyakinkan.

Arsip Cerpen di Indonesia