Satu bulan setelah korban kelima ditemukan, hal-hal misterius dari kasus ini masih belum juga terungkap. Penelusuran-penelusuran dari pihak kepolisian seperti berjalan di tempat; spekulasi-spekulasi media pada akhirnya cenderung kontraproduktif dan menambah keruwetan yang ada. Orang-orang semakin cemas bahwa jangan-jangan korban berikutnya adalah seseorang yang mereka kenal dekat, atau pasangan mereka, atau keluarga mereka, atau bahkan diri mereka sendiri. Pemerintah kota masih juga pasif dalam arti belum mengeluarkan kebijakan spesifik mengenai hal ini; mereka pun agaknya kebingungan dan tidak tahu harus melakukan apa. Di dunia maya, pembahasan-pembahasan tentang kasus ini semakin liar dan liar saja.
Seorang novelis, barangkali ia berpikir kasus ini tak akan terpecahkan, menawarkan sebuah perspektif lain. Lewat situs web dan akun-akun media sosial resminya ia mengumumkan bahwa dalam waktu dekat novel terbarunya akan terbit, dan novel ini mengangkat kasus tersebut dalam balutan absurditas dan eksistensialisme. Dibocorkannya bahwa tokoh-tokoh utama dalam novelnya ini adalah orang-orang yang kemudian menjadi korban-mereka yang ditemukan tinggal mayat tanpa bola mata itu. Eksplorasi di novel ini bukan pada bagaimana hal-hal misterius dari kasus tersebut terpecahkan, tapi bagaimana korban menjalani kehidupannya dan bagaimana pula kematiannya yang misterius itu membentuk ulang persepsi orang-orang terhadap mereka, terhadap kehidupan yang pernah dijalaninya itu. Tidak akan ada sosok seperti malaikat kematian atau yang semacamnya; kalaupun sosok itu ada, tidak akan dimunculkan secara eksplisit di cerita. Begitulah si novelis menjelaskan. Novel ini konon telah mulai digarapnya sejak hampir dua bulan lalu.
Reaksi warganet terhadap pengumuman dari si novelis ini beragam, tetapi ada satu benang merah yang menyatukan semuanya: mereka sama-sama ingin tahu bagaimana kasus ini berakhir.
Tetapi akankah kasus ini berakhir? Itu dia masalahnya. Tidak ada satu pun yang bisa memastikan-setidaknya sampai saat ini-bahwa kasus tersebut akan berakhir, bahwa kelak tak akan lagi ada seseorang yang tiba-tiba sudah tinggal mayat dengan rongga mata yang kosong. Dikaitkan dengan hal ini apa yang ditawarkan si novelis tadi cukup berharga, bahwa ia mengingatkan orang-orang di Kota A untuk lebih peduli pada orang-orang yang masih hidup ketimbang mereka yang sudah mati, untuk lebih peduli pada kehidupan yang tengah berlangsung ketimbang kehidupan yang telah berlalu, pada apa yang ada dan bisa digenggam saat ini ketimbang apa yang belum tentu ada di masa depan. Mungkin ketika akhirnya terbit nanti, novel ini akan disambut seperti halnya manga kontroversial tadi. Terlepas dari dampaknya bagaimana, beredarnya novel ini akan menjadi warna tersendiri dari realitas liyan yang tengah berlangsung di Kota A.