Mayat tanpa Bola Mata

Satu minggu setelah novel itu terbit, korban keenam ditemukan: seorang aktris pendatang baru yang memulai kariernya di dunia hiburan sebagai idol-ia dulunya salah satu anggota paling terkenal sebuah idol group besar yang bermarkas di kota tersebut. Penelusuran-penelusuran kembali dilakukan pihak kepolisian; spekulasi-spekulasi kembali ditawarkan media; pembahasan-pembahasan mengenai kasus ini kembali ramai di dunia maya. Dan seperti biasa: semuanya sia-sia; sia-sia dalam arti tetap saja misteri-misteri itu tak terpecahkan.

Adapun novel itu sendiri laris-manis. Dan di antara orang-orang yang membacanya, banyak yang mengunggah kata-kata terakhir si narator di novel tersebut, baik itu di blog atau media sosial, atau bahkan YouTube. Apa yang dikatakan si narator itu sendiri adalah ini: Bagaimana jika yang mengambil bola mata dan nyawa orang-orang itu adalah kota ini sendiri, sedangkan kota ini ada karena kita membuatnya ada, karena kita selama ini (bersikeras) menjalani kehidupan di dalamnya? (*)

 

Bogor, 19-20 Februari 2019

Ardy Kresna Crenata menulis cerpen, esai, dan puisi.

Arsip Cerpen di Indonesia