Mayat tanpa Bola Mata

Dalam situasi seperti ini, seorang mangaka-komikus-muda memublikasikan sebuah manga-komik-buatannya yang mengangkat kasus tersebut, tentu saja dengan bumbu-bumbu fiksi yang ditambahkannya. Manga ini ia bagikan secara gratis sebagian kepada para warganet yang mengikuti situs web resminya; sisanya baru bisa mereka akses setelah membayar sekian ribu yen. Dalam beberapa hari saja manga ini sudah menjadi buah bibir di Kota A, bahkan di kota-kota lainnya di negeri ini. Perspektif dan pembacaan yang ditawarkan si mangaka lewat manga-nya ini memang menarik; terlampau menarik untuk diabaikan begitu saja.

Sederhananya begini, si mangaka memandang kasus misterius itu: si pelaku yang dicari-cari itu tidak ada, begitu juga teknologi canggih yang konon digunakan untuk mengambil bola mata korban, begitu juga para korban itu sendiri; semuanya itu hanya ilusi, hal-hal yang terasa nyata ada namun sejatinya tak pernah ada. Masalah yang sebenarnya dihadapi dengan demikian bukanlah adanya kasus itu, melainkan terkesan benar-benar adanya kasus itu, yang berarti upaya-upaya yang harus dilakukan bukanlah mencari si pelaku dan dalang di balik kasus tersebut, melainkan bagaimana supaya kita bisa keluar dari situasi ilusif ini.

Di mata sebagian orang, apa yang ditawarkan si mangaka ini tidak etis, tidak sensitif terhadap keluarga korban, bahkan juga dianggap tidak berguna. Seorang psikolog misalnya pernah mengemukakan di akun Twitter-nya bahwa yang dibutuhkan masyarakat Kota A saat ini adalah dorongan untuk terus berjuang menghadapi kecemasan dan ketakutan yang timbul sebagai efek samping dari mencuatnya kasus itu, sedangkan apa yang ditawarkan si mangaka sama sekali tak membantu, malah mendorong mereka untuk menjadi semakin cemas dan semakin takut, dan akhirnya putus asa. Respons negatif serupa datang dari semacam aliansi guru-guru di Kota A. Mereka bahkan meminta pemerintah kota mengeluarkan kebijakan agar manga kontroversial itu dihapus eksistensinya dan situs web si mangaka sendiri diblokir sampai batas waktu yang tak ditentukan.

Tentu saja kebijakan tersebut tidak dikeluarkan. Bagaimanapun mereka yang mendukung si mangaka dan sepemikiran dengannya sangat banyak. Oleh sebagian dari mereka, manga itu sendiri bahkan dinilai mewakili kecemasan dan ketakutan masyarakat Kota A yang sebenarnya, yakni ketidakmampuan mereka untuk keluar dari realitas palsu yang menjebak mereka, baik itu di dunia kerja maupun di kehidupan sehari-hari.

Korban keempat ditemukan seminggu yang lalu: seorang perempuan, usianya lagi-lagi dua puluhan. Tetapi tidak seperti korban-korban sebelumnya yang adalah para pekerja kantoran-korban ketiga bekerja di sebuah perusahaan kosmetik-korban keempat ini adalah seorang ibu rumah tangga. Dan tidak seperti korban-korban sebelumnya yang ditemukan tak bernyawa di luar rumah, korban keempat ini ditemukan tak bernyawa justru di dalam rumahnya sendiri, lebih tepatnya di kamar mandi, saat ia sedang berendam air hangat di ofuro-bathtub.

Arsip Cerpen di Indonesia