Sampai sejauh ini, terlihat sekali bahwa menganalisis karakteristik target si pelaku jauh lebih mudah ketimbang mencari tahu si pelaku itu sendiri. Korban selalu di usia dua puluhan; usia di mana seseorang umumnya sedang gamang memikirkan masa depannya. Jika dicermati baik-baik lingkaran sosial korban, akan didapati bahwa si pelaku selalu memilih orang-orang yang relatif tak menonjol, baik itu di lingkungan kerjanya maupun di kehidupannya sehari-hari. Mereka juga orang-orang yang ramah dan murah senyum, meski entah kenapa tidak memiliki banyak teman. Tentang kondisi finansialnya sendiri, mereka adalah orang-orang yang relatif aman dalam arti tak akan begitu terkena dampak apabila tiba-tiba perekonomian negeri ini dihantam krisis. Dan soal pandangan filosofis mereka, seperti soal bagaimana mereka memaknai hidup, mereka terbilang biasa saja. Tidak ada yang istimewa dalam cara mereka memandang dan menjalani realitas.
Jadi untuk sementara bisa disimpulkan seperti ini: korban yang disasar pelaku adalah seseorang di usia dua puluhan-umumnya perempuan-yang biasa-biasa saja, dalam arti tidak istimewa, baik dalam memandang realitas maupun menjalaninya. Tetapi bahkan dengan simpulan ini pun, masih menjadi misteri kenapa hanya mereka yang menjadi korban, sedangkan mestilah orang-orang seperti itu selain mereka ada banyak, begitu banyak. Tidak sulit untuk menemukan mereka.
Terkait dengan hal ini temuan-temuan dari pihak kepolisian tidak membantu; mereka kini bahkan dipusingkan dengan ditemukannya korban keempat di rumahnya sendiri, padahal sebelumnya mereka sempat menduga bahwa si pelaku beroperasi di pusat kota pada malam-malam larut, di tempat-tempat yang penerangan dan pengawasannya minim. Mereka telah menyelidiki suami korban tapi tak mendapati kemungkinan lelaki itu berkeliaran di pusat kota, juga tak menemukan juga motif yang mampu mendorongnya menghampiri para korban. Selain itu, secara psikis lelaki tersebut sehat-sehat saja.
Dan kini jatuh korban kelima, si gravure idol yang sedang naik daun itu. Usianya dua puluh lima dan ia ditemukan tak bernyawa di kamar apartemennya. Tak ada tanda-tanda ia telah meminum pil atau cairan tertentu yang berbahaya bagi kesehatannya; tidak juga ada tanda-tanda seseorang telah berada di kamar tersebut beberapa jam atau bahkan beberapa hari sebelum kematiannya. Rongga matanya kosong. Kosong dan benar-benar kosong. Korban sendiri ketika ditemukan, kata seorang karyawan apartemen yang memasuki kamar tersebut dengan paksa setelah penghuni kamar apartemen lain mengeluhkan adanya bau busuk yang menguar dari kamar tersebut, seperti sedang menatap sesuatu yang jauh. Menelentang di kasurnya yang lebar dan putih-bersih, korban seperti sedang menatap sesuatu yang jauh.