Rencana Kematian Menjelang Hari Pemilihan Umum

“Mungkin kau perlu dua butir calmlet untuk menemani birnya. Itu tidak pernah gagal membuat kita tenang, bukan?”

“Tapi aku tidak yakin itu akan berhasil dalam keadaan seperti sekarang ini.”

“Sudahlah. Kau tak perlu terlalu memikirkannya.”

“Bagaimana aku bisa tidak memikirkannya?”

“Sudah kubilang perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan keluargaku adalah orang-orang yang terbiasa berkorban untuk itu. Aku yakin kau belum melupakan kakakku.”

“Tentu saja. Tapi ini persoalan yang berbeda.”

“Berbeda bagaimana? Dia juga berjuang, ingat itu. Dia berangkat ke Jakarta pada hari Senin setelah korespondensi panjang dengan teman-teman pergerakannya. Teman-temannya bersumpah ia terlihat berkeliaran di Jalan Diponegoro pada hari Sabtu kelabu itu. Lalu ia menghilang. Belum genap seminggu ia berada di Jakarta dan ia menghilang. Banyak yang yakin ia tewas dan mayatnya dibuang entah ke mana oleh pihak-pihak yang kita tahu siapa. Lihatlah. Bahkan sebagai statistik pun ia tidak tercatat. Komnas HAM menyatakan lima orang meninggal dan 149 orang terluka, termasuk aparat. Tapi ia tidak termasuk di antara itu semua. Dan kau tahu apa yang dikatakan bapakku waktu itu?”

“Aku tahu,” si lelaki mematikan rokok yang masih panjang dan memegang keningnya. Jari telunjuk tangan kanannya mengetuk-ngetuk kening berkilat tersebut.

“Perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan tidak semua pengorbanan harus tercatat. Persis seperti ribuan orang lain yang mati pada masa penjajahan kolonial atau perang kemerdekaan.”

“Bagus kalau kau masih ingat,” jawab si perempuan. Ia bangkit lalu berjalan menuju kulkas tidak jauh dari tempat duduknya. “Dan kalau seandainya bapakku masih hidup, ia akan mendukung apa yang aku lakukan. Ia akan memelukku penuh keharuan. Ingat, ia terharu. Bukan bersedih,” lanjut si perempuan. Ia membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol bir. “Kau mau juga?” tanyanya sambil menoleh ke si lelaki.

“Tidak. Aku tidak ingin bir atau calmlet. Sudah kubilang aku tidak mau. Satu-satunya yang kuinginkan adalah kau membatalkan rencana tolol ini.”

“Ini bukan rencana tolol. Kau tahu itu. Kita telah membicarakannya. Bukan hanya kita, melainkan juga tim sukses kita. Ini adalah kesepakatan. Ini adalah bagian dari demokrasi. Dan kau tidak bisa membatalkan begitu saja keputusan yang dihasilkan dari diskusi yang mengusung semangat demokrasi seperti ini begitu saja. Kukira, kita tidak perlu lagi membicarakan ini semua atau tim sukses kita akan mengenang kita sebagai bagian dari orang-orang yang mengkhianati demokrasi, mengingkari hasil musyawarah mufakat.”

Arsip Cerpen di Indonesia