“Apakah kau tidak merasa takut?” si lelaki bertanya setelah menitikkan latu ke asbak di depannya.
“Tidak. Karena aku tahu kau akan menjadi anggota dewan. Dan kau akan menjadi anggota dewan yang baik. Dan itu bagaimana pun adalah langkah awal. Kelak, siapa tahu kau bisa menjadi kepala daerah atau bahkan presiden.”
“Aku menyesali keputusan yang kubuat dulu.”
“Apa maksudmu?”
“Aku menyesal mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Kupikir, berjuang tidak harus dilakukan dengan cara itu.”
“Memang tidak. Tapi ini adalah cara paling efektif untuk membangun negeri tercinta kita, tanah air kita. Terlalu banyak orang busuk di lembaga terhormat itu dan hanya kau yang bisa memperbaikinya. Kau tahu sendiri kan berapa dari mereka yang terkena operasi tangkap tangan KPK? Yang tidak hadir sidang? Bahkan yang menonton video porno waktu sidang? Ini sudah benar-benar konyol. Belum lagi komentar-komentar mereka di media sosial yang benar-benar tidak masuk akal dan malah memecah belah serta merusak bangsa ini ketimbang menyatukan dan membangunnya. Kau, sayangku, kau yang harus memperbaiki itu semua. Dan untuk itu, kukatakan sekali lagi kepadamu, aku rela berkorban. Ini langkah besar untuk kita.”
“Aku tidak akan bisa memperbaiki apa-apa kalau polisi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan hakim menjebloskanku ke dalam penjara.’’
“Karena itulah hal pertama yang harus kau lakukan setelah mereka melantikmu menjadi anggota dewan adalah menyumpal mulut para penegak hukum itu. Bila kau tak mendekati mereka dan menawarkan sesuatu yang tidak mungkin mereka tolak, mereka akan menyerangmu.”
“Menyuap mereka?”
“Oh, istilah itu terlalu kasar. Tapi tak apalah. Masyarakat mungkin tidak bisa kau suap untuk memilihmu, tapi para penegak hukum itu, tidak diragukan lagi, akan bungkam dengan sejumlah uang atau proyek, atau hal-hal semacamnya di tangan mereka.”
“Itu kalau aku menang.”
“Kau akan menang. Itu pasti. Besok, mereka akan menemukanku telungkup di selokan dengan dada berlubang dan sebuah peluru bersarang di dalamnya. Kau akan mengatakan bahwa aku sedang dalam perjalanan untuk menyantuni anak yatim piatu ketika entah siapa mencelakaiku dan kau akan bersedih. Kau tak perlu mengatakan apa-apa selain betapa kau mencintaiku dan betapa aku menaruh perhatian besar pada anak-anak, khususnya anak yatim piatu. Masyarakat akan tersentuh dengan itu semua. Dan tim sukses kita, seperti yang telah kita rencanakan, akan mengembuskan kabar melalui akun-akun bodong di media sosial bahwa lawan-lawan politikmu dalam perebutan kursi legislatif di daerah pemilihan inilah yang mencelakaiku. Masyarakat gampang percaya dan terprovokasi dengan berita-berita semacam itu. Percayalah. Drama yang luar biasa menarik akan terjadi. Dan bila setelah itu kau hanya ongkang-ongkang kaki, percayalah, kau akan tetap melenggang ke Senayan.”