Rencana Kematian Menjelang Hari Pemilihan Umum

“Aku tak tahu apakah aku akan sanggup melakukan itu semua. Anak-anak juga.”

“Kau akan sanggup melakukannya. Aku yakin itu. Dan kelak, anak-anak akan menceritakan kisahku dengan penuh kebanggaan. Mereka tidak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya akan tahu bahwa ibunya meninggal akibat kejahatan lawan-lawan politik bapaknya. Ibunya seorang patriot. Ibunya seorang pahlawan. Ibunya seorang legenda. Kau tahu, aku selalu ingin menjadi pahlawan dan legenda. Bukankah itu luar biasa?”

“Aku ingin memikirkan ulang ini semua.”

“Tidak. Jangan mulai lagi seperti itu. Sudah malam. Aku mengantuk. Besok adalah hari besar, ada hal mahapenting yang harus aku lakukan,” si perempuan bangkit dari tempat duduknya, ia menenggak sisa bir dalam botol. Lalu dengan mantap berjalan menuju kamar tidurnya. Sesampainya di pintu kamar, ia menoleh ke si lelaki yang tengah mematikan puntung rokok di asbak. “Aku ingin bercinta denganmu untuk terakhir kalinya,” katanya. Suaranya begitu tenang. Dan ia tersenyum. (*)

 

CATATAN:

Kalimat Bayang-bayang bergoyang sibuk diambil dari puisi Goenawan Mohamad yang berjudul Tentang Seseorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum.

 

Dadang Ari Murtono Lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Arsip Cerpen di Indonesia