“Seandainya kita punya cukup banyak uang.”
“Oh, jangan mulai berdebat tentang apa yang sudah kita diskusikan dan simpulkan sebelumnya. Kebiasaanmu ini benar-benar menyebalkanku.”
“Tapi…”
“Tidak ada tapi-tapian. Kita tidak hidup di masa lalu. Sekarang, media sosial menguasai kehidupan kita, dan karenanya arus informasi mengalir tanpa bisa kita bendung. Orang-orang sudah cukup cerdas untuk menerima uang kita, namun memilih calon lain di hari pemilihan. Alih-alih menjadi strategi pemenangan yang jitu, taktik seperti itu bisa menjadi bumerang bagi kita. Bisa saja mereka merekam itu dan mengunggahnya ke media sosial. Dan ujung-ujungnya, bukan hanya perjuangan kita yang gagal, namun kita juga mesti berhadapan dengan hukum.”
“Mungkin apa yang kau katakan memang benar.”
“Itu memang benar. Bukan ‘mungkin benar’. Yang kita butuhkan sekarang adalah drama. Ingat itu. Drama.”
“Kukira kita bisa memperbaiki materi kampanye kita. Kita bisa merumuskan kembali program-program yang akan kita jalankan kalau kita memenangkan satu kursi di pemilu legislatif.”
“Oh, kenapa kau kembali membicarakan itu? Program-program dan janji-janji itu klise belaka. Hanya pemantas dan pemanis agar kampanye tetap tampak seperti kampanye. Apa yang akan kau perbaiki? Semua kandidat sesungguhnya memiliki program yang sama. Pendidikan dan layanan kesehatan gratis, pembukaan lapangan kerja, pengoptimalan kinerja pemerintah, pemberantasan korupsi, peningkatan keamanan, dan hal-hal semacam itu. Jika ada yang berbeda, maka itu hanyalah redaksional kalimatnya belaka. Intinya sama. Dan para pemilih tidak lagi peduli pada itu semua. Yang diinginkan orang-orang adalah drama. Dan drama itulah satu-satunya bahan kampanye yang bisa kita perbaiki. Semakin kita menempatkan diri sebagai pihak yang teraniaya, semakin orang bersimpati kepada kita. Dan bila mereka sudah bersimpati, maka mereka akan memilih kita. Sesimpel itu. Masak orang seperti kau tidak bisa mengerti hal sesederhana ini sih?”
Si lelaki kembali menyalakan sebatang rokok. Si perempuan meneguk bir langsung dari mulut botol dengan sebuah tegukan besar. Ia bersendawa sebelum menaruh botol itu di atas meja makan.