Dongeng Terakhir untuk Jingga

Lelaki itu tertawa renyah, di kepalanya berkelebat kenangan malam-malamnya bersama anak perempuannya dengan dongeng-dongeng yang dia karang sendiri. Tiba-tiba dia mencium aroma segar dari rambut anaknya yang dulu selalu dia cium setelah dongengnya berhasil menidurkan bocah perempuannya itu. Dia merasa bahwa peristiwa-peristiwa itu baru terjadi beberapa saat lalu. Tapi, sekarang dia mendengar bahwa anaknya telah bersekolah. Lebih dari itu, anaknya yang masih ingusan tersebut sudah berseteru dengan gurunya. Sebentar lagi anak itu juga akan tahu bahwa dunia sesungguhnya sangat rawan dengan perseteruan.

Termasuk, ayah dan ibunya yang saling berseteru sebelum akhirnya ayahnya menghilang dari rumah mereka. Bahkan, Jingga harus kehilangan dongeng-dongeng indah dari ayahnya.

“Kamu masih di sana, apa kamu mendengar?”

“Ya,” jawab lelaki itu seketika tersadar dari lamunannya.

“Dia akan senang jika kamu membuat kejutan.”

“Apa?”

“Jemputlah dia di sekolah.”

***

Itu adalah perjumpaan pertama lelaki tersebut dengan anak perempuannya setelah setengah tahun. Dari jarak kurang dari lima meter, dia hanya bisa mematung saat kembali melihat anak perempuannya dalam seragam sekolah. Matanya berkaca-kaca saat melihat anak itu sedang tampil di depan kelas untuk menyanyi. Seorang guru perempuan mengagetkannya dengan mengatakan bahwa bunda Jingga telah memberitahukan bahwa Jingga akan dijemput ayahnya. Juga, itu adalah kejutan. Guru tersebut meminta dia menunggu karena datang lebih cepat lima belas menit.

Saat mereka melepas rindu, Jingga tiba-tiba ingin melepaskan pelukannya pada lelaki itu.

“Ada apa, Sayang?”

“Apa Ayah tak membawa sesuatu untukku?”

“Kamu akan memilihnya sendiri nanti.”

“Tanpa ibu?”

“Kamu harus mengajaknya kalau kamu masih memakai popok atau minum ASI,” kata lelaki itu, seakan lupa bahwa anaknya baru berusia empat tahun.

“Apa kamu tak merindukan ayah?”

“Rindu, tapi tak sebanyak yang Ayah kira.”

Arsip Cerpen di Indonesia