Dongeng Terakhir untuk Jingga

Seorang pramugari membangunkannya yang tertidur hampir dua jam setelah menelan aspirin.

“Anda baik-baik saja?” tanya pramugari dengan ekspresi wajah yang tak setenang saat dia memberikan aspirin dua jam lalu. Lelaki itu tak bisa melihat dengan fokus objek-objek yang ada di sekitarnya. Dia mengira pusing di kepala juga menjadi penyebab mual di lambungnya.

“Apa ini karena obat itu yang sedang bekerja?”

“Tidak, Tuan. Ini turbulensi. Silakan pakai pelampung.”

“Di mana?” Intonasinya berubah.

“Mari saya bantu, Tuan.”

“Yang mana?”

“Jingga, Tuan.”

“Itu warna yang indah.”

“Sangat cantik,” kata pramugari itu sembari membantu lelaki tersebut memasang pengait pelampungnya.

“Jingga adalah nama putriku. Dia sangat menyukai dongeng. Aku menempuh penerbangan lima jam ini demi mendongeng untuknya.”

“Dongeng? Aku pun menyukainya.”

“Dongeng kancil, bukan pencuri.”

Pramugari itu tersenyum dan mengangkat kedua bahunya. “Mau kan Tuan mendongeng untukku sebagai pengantar tidur kita di dasar laut nanti?”

 

Bunga Pustaka, 2019 

Mufti Wibowo lahir dan tinggal di Purbalingga. Bergiat di komunitas Bunga Pustaka.

Arsip Cerpen di Indonesia