Dongeng Terakhir untuk Jingga

Lelaki itu mendengar samar suara bocah tersebut sedang berbicara dengan ibunya. Lelaki itu tak bisa membayangkan apa yang terjadi malam sebelumnya seperti yang mantan istrinya ceritakan. Jingga baru tidur saat larut demi menunggu kedatangannya untuk mendongeng. Jingga menolak saat ibunya akan menggantikan ayahnya untuk mendongeng. Badan Jingga mendadak demam malam itu. Sepanjang tidurnya, dia mengigau menyebut-nyebut ayah.

Sebelumnya, lelaki itu selalu mendongeng sebagai pengantar tidur Jingga sejak usia anak itu belum genap tiga tahun. Suara anak dan ibunya yang sedang bergurau lesap begitu saja di telinga lelaki itu. Sesuatu di dada lelaki itu mendesak, napasnya mendadak sesak, air mata mengalir begitu saja.

Setelah gemuruh di dada dan kepala luruh reda, lelaki itu mendekat kepada anak perempuan yang tengah dalam pangkuan ibunya tersebut. Sebelum berbicara apa pun, lelaki itu mengubah posisi berdirinya menjadi merangkak. “Mari, Tuan Putri, kuda siap mengantar Tuan Putri menggosok gigi sebelum membawamu pergi ke negeri dongeng.”

Bocah itu meluncurkan badan dari pangkuan ibunya ke punggung kuda. “Berangkat!”

Keduanya tak melihat wanita itu menangis di hadapan rak-rak buku dan meja kerjanya.

“Kemarin Ayah pergi ke mana?”

“Ayah tak pergi, Sayang.”

“Bohong, kata Ibu…”

“Ssst. Ayah akan beri tahu, tapi ini rahasia kita saja.”

“Ibu tahu?”

“Tidak, hanya Jingga dan ayah.”

Jingga diam beberapa detik sebelum mengangguk setuju.

“Jika suatu malam ayah tak ada untuk mendongeng, itu berarti ayah sedang berubah menjadi rembulan yang mendongeng untuk bintang-bintang kecil yang kesepian di langit sana.”

“Benarkah?”

Lelaki itu mengangguk pasti.

“Tapi, aku takut sendirian saat malam, Yah.”

Lelaki itu lalu berjalan ke arah jendela kaca. “Kamu tak perlu takut, kamu bisa melihat ayah setiap saat dengan membuka tirai jendela. Dari sana, ayah akan mengawasimu.”

Arsip Cerpen di Indonesia