Lelaki itu tersipu saat mendengar jawaban mengejutkan tersebut muncul dari bocah yang bahkan belum genap lima tahun.
“Oke, ayahlah yang sebenarnya sangat merindukanmu. Boleh kan ayah meminta peluk dan ciuman rindu darimu, Sayang?”
Bocah itu berparodi, memandang dengan fokus ke langit-langit seakan ingin memecahkan sebuah teka-teki. Itu gaya khas ibunya, lelaki tersebut tentu sangat mengenal.
Lelaki itu terkejut ketika seorang pramugari mengantar kopi yang dia pesan. Dengan kesopanan yang luar biasa, pramugari itu meminta maaf karena mengira dirinya terlalu lambat sehingga lelaki itu sampai tertidur. Rupanya, pertemuan dengan Jingga hanya terjadi dalam mimpinya.
“Anda baik-baik saja?” kata pramugari bermata sipit itu.
Lelaki itu tampak memaksakan diri tersenyum untuk menjawab kekhawatiran pramugari. Si pramugari pergi setelah memastikan akan kembali lagi dengan membawa aspirin yang lelaki itu minta. Dia menolak saat ditawari untuk mendapatkan perawatan medis. Dia menjelaskan, hanya ada batu yang masuk ke kepalanya sehingga terasa berat.
***
Setelah aspirin itu bekerja di tubuhnya, lelaki tersebut kembali tertidur. Penerbangan masih sekitar dua setengah jam lagi setelah transit sekali. Dia selalu mengalami hal semacam itu jika menempuh perjalanan lebih dari dua jam.
Jingga tak pernah tahu mengapa sejak hari itu dia akan membenci malam untuk selama-lamanya. Dada dan kepalanya penuh dengan kecemasan dan ketakutan yang cekam. Hari itu hanya sehari setelah ulang tahunnya. Malam perayaan ulang tahunnya adalah malam terakhir dia mendengar dongeng pengantar tidur dari ayahnya.
“Jingga minta maaf ya, Yah.”
“Untuk apa, Sayang?”
“Jingga nakal, nggak nurut Ayah, malas gosok gigi sebelum tidur. Ayah janji ya dongengin Jingga setiap hari?”
“Malam ini Jingga sudah gosok gigi?”
Dengan manja, dia menggelengkan kepala. Lalu, dia tertawa, menunjukkan barisan giginya, tapi segera ditutup dengan telapak tangan kanannya.
Lelaki itu menggeliat, berlagak galak seperti singa, mengaum untuk menggertak mangsanya.
Jingga bergelak, lalu pergi dengan berlari, memekik ibunya yang entah di mana.