Kati menutup telepon genggamnya yang penutup baterainya telah raib.
“Ati butuh uang?” Tanya Apali yang masih terbaring tak berguna. Daun-daun ramuan yang ditumbuk yang diramu oleh Mak Hen masih belum memberi tanda-tanda Apali akan bisa bertani dalam waktu segera.
“Untuk beli buku katanya.”
“Ya sudah, pakai saja uang untuk berobat besok.”
“Tapi, Bang…”
“Sudah, kita tidak jadi ke rumah sakit.”
“Atau kita utang dulu pada Kak Yet?” keraguan terdengar jelas dari suara Kati.
“Kamu mau anak kita belajar dengan uang haram?”
“Kita niatkan saja bunganya sebagai hadiah.” Kati tahu dalihnya akan percuma.
“Bunga ya bunga. Tetap saja haram!”
“Tapi yang makan bunganya kan bukan kita,” suaranya menyerah.
“Sama saja. Itu seperti kita bertani pada tanah tandus. Baik petani dan pemilik tanahnya tak akan memperoleh apa-apa kecuali celaka.”
Kati terdiam. Ia membaringkan tubuhnya yang lelah. Sepasang manusia itu seperti sedang bergelut dalam desir masing-masing. Di kepala mereka berdenyut-denyut derita yang seolah sedang loncat-loncat tak tahu diri.
“Icut masih belum mau sekolah. Dia juga tak mau bicara. Bahkan dia tak mau melihatku. Rencana, besok aku akan menemui gurunya di sekolah.”
Banyak sekali topik yang dimiliki oleh suami istri bila sudah di atas ranjang pada malam hari.
“Ada apa dengan si bungsu kita?” Apali bertanya pada dingin. Menatap langit-langit tak bergairah.
“Entahlah, tadi siang ketika mengantar makan siang ke kamarnya dia juga terlihat aneh. Dia bicara dengan gambar yang dilukisnya di dinding.”
“Mungkin dia butuh teman cerita. Sepertinya kita terlalu sibuk sampai lupa Icut.”
“Besok aku juga ingin membelinya boneka. Mana tahu dengan begitu dia mau sekolah.”
“Kau beli juga buku-buku cerita loak. Buku teman paling baik untuk anak-anak.”
Mereka terdiam lagi. Dari kamar sebelah mereka mendengar suara dinding yang digores tanpa hati-hati. Sepertinya Icut sedang menggambar lagi. Kati dan Apali berpura-pura tak peduli.
“Sudah lama tak turun hujan. Sepertinya padi-padi kita terancam.”