Malaikat Cacat

“Setelah tugas kampusku selesai.” Padahal tugasnya dua hari yang lalu telah rampung. Setelah mengambil perkakas, ia segera teriak pamit, tak mau ibunya menembak bertubi-tubi.

***

Berkat dua bungkus nasi uduk, ibu Bayhaki bisa menyimpan muka jeruk purutnya. Agam tak mau ambil peduli, yang penting ia bisa mengalirkan air ke sawahnya walau tak seberapa. Sawah yang sedang digarap Agam memang terbentang persis di belakang rumah Bayhaki. Dibantu oleh sahabatnya, Agam membuka gulungan selang. Agam sebal saat selangnya ternyata terlalu pendek. Hampir semeter lagi. Agam bertanya mungkin di rumah Bayhaki ada solusi. Namun Bayhaki menggeleng. Agam melihat sekitar, mengincar sesuatu. Ia berhenti setelah matanya bertumbuk pada bambu di ujung sana di sebelah timur.

“Di rumahmu tak mungkin tak ada parang.” Mengetahui rencana temannya, Bayhaki segera merangkak ke dapur.

Dengan langkah besar dan cepat dua sekawan itu berjalan di pematang sawah yang kering. Parit-parit yang ada di pinggir pematang nyaris mengering. Seolah tak mau tahu sawah-sawah yang kian haus.

“Bagaimana jika pemiliknya marah?” Bayhaki bertanya saat Agam mulai menebang.

“Kau saksinya, jika nanti sawahku panen, aku akan memberi pemiliknya sekarung beras.”

“Memang kau tahu ini milik siapa?”

“Tenang saja. Besok kita akan mendengar gosipnya di pasar.”

Bayhaki meggeleng-geleng sekaligus bangga memiliki teman yang pemberani. Suatu saat ia ingin mencoba bentuk keberanian begitu.

“Jangan diam saja!”

Seperti kuda yang dicambuk penunggangnya, Bayhaki segera memegang batang yang beberapa pukulan lagi akan putus.

***

Agam tersenyum lega saat akhirnya ia bisa menegukkan air ke mulut sawahnya. Ia pandang hasil kerjanya dengan sungguh-sungguh. Dan melalui potongan bambu yang ramping itu, air mengalir berbudi sekali.

“Kau harus mengurus sawahmu seperti mengurus badanmu yang sedang sakit. Kau akan melakukan apa saja yang penting badanmu sehat. Kalau badanmu tak kunjung sembuh, kau sendiri yang akan menderita,” Agam mulai memberi Bayhaki kuliah. Bayhaki amat menyesal dan ingin mengecil seperti seekor semut saat Agam menjelaskan tentang mesin-mesin tani di negeri adikuasa.

***

Arsip Cerpen di Indonesia