Malaikat Cacat

“Sudahlah, sudah malam. Jangan siksa batinmu di malam-malam begini!” Apali mencoba menghibur istrinya sebelum akhirnya ia memunggungi. Kati pun.

Walaupun memejam, Apali merasa sangat bersalah atas ketiadagunaannya. Ia membuka matanya kembali. Berharap menemukan jalan keluar pada dinding triplek di depan hidungnya.

***

Tanpa memberi kabar, Agam tiba-tiba pulang. Katanya ia ingin memberi kejutan. Ketika melihat luka di kaki ayahnya, ia begitu iba. Mengetahui keluarganya seperti seekor ular yang sedang dicekik lehernya, ia segera turun ke sawah. Sekalian, ia pulang memang untuk kepentingan tugas kuliah di lapangan.

“Kita harus melakukan sesuatu, Umi, kalau air irigasi baru sampai ke sini sebulan lagi. Keburu mati padi-padi kita.”

“Petani-petani sudah protes ke petugas irigasi, tapi tetap saja tak ada hasil. Alasannya mereka takut membuka air berlebihan karena berisiko untuk sawah-sawah yang berdekatan dengan irigasi. Sesama petani mana boleh egois, Gam.”

Agam mengipas-ngipas mukanya dengan topi runcing. Ibunya meletakkan seketul ikan asin di piring nasi anaknya. Dengan selera yang payah mereka melahap, gagal melupakan segalanya. Kendati begitu, Agam tetap mencoba memutar urat kepala. Walau sulit jika ini menyangkut air, benda yang hanya Tuhan yang mampu ciptakan dengan amat mudah dalam jumlah yang meluap-luap.

***

Keesokan paginya, pulang-pulang tiba-tiba Agam membawa selang air dengan gulungan hampir sebesar ular piton. Ia meminjamnya dari gudang desa. Yang pegang kunci gudang adalah Daud, teman sekolah yang rajin menyontek pada Agam.

“Untuk apa itu, Gam?”

“Bayhaki mengizinkanku mengambil air bor dari rumahnya. Dengan syarat aku harus memberinya kuliah tentang pertanian.”

“Anak itu dari dulu memang ingin kuliah.”

“Betapa beruntungnya aku memiliki Abi dan Umi.” Dan betapa bersyukurnya Kati mendengar kata-kata itu keluar dari mulut anak lelakinya.

“Hari ini biar aku yang ke sawah. Umi temani Icut saja.”

“Kapan kau kembali kuliah?”

Arsip Cerpen di Indonesia