Satu hari setelah Agam kembali ke kota, hujan turun amat keterlaluan dalam seharian. Setelah berhenti sejenak, hujan-hujan susulan berbondong-bondong menjerit. Seolah langit dendam seperti berbuka puasanya orang yang rakus. Bahkan hingga sepertiga malam pertama hujan seperti belum ada kehendak ingin berhenti. Di kamarnya Kati kian gelisah. Jika gagal panen kali ini, maka uang semester anaknya berada di mulut buaya. Ia lihat suaminya yang tertidur pulas seperti orang yang tak kena bantal setahun.
Kati keluar dari kamarnya. Lalu membuka kamar sebelah. Icut yang sedang berbisik-bisik dengan bonekanya seperti orang gila, membelakangi ibunya dengan cepat. Kati masih belum tahu penyebab anaknya berubah. Seolah Icut begitu membencinya. Ia hanya mau bicara pada ayah dan Agam, sedangkan pada ibunya sendiri, ia seperti sedang melihat nenek sihir. Bu guru di sekolah pun tak mengetahui penyebabnya. Entah apa yang dilakukan guru-guru desa itu sampai hal besar seperti itu luput mereka ketahui penyebabnya. Tapi mereka berjanji akan menelusuri.
“Cut, Ibu keluar sebentar, ya. Jangan lupa kunci pintu sebelum tidur!” Setelah tersenyum singkat dan tak mempermasalahkan anaknya yang urung menjawab, Kati menutup pintu. Dan Icut kembali asyik.
***
Setelah berhasil mengalirkan air dari sawahnya ke aliran irigasi, dengan lega Kati hendak beranjak kembali. Namun hujan masih sangat bernafsu. Payung usang yang dibawa Kati merasa terhina sebab tak kuasa melindungi tuannya. Petir-petir sambut-menyambut seperti bola dalam tendangan kaki. Kilat menjadi penerang yang angkuh. Malam seolah sedang menjelma malaikat maut.
Karena senter yang dibawa Kati mati mendadak, Kati terpijak sesuatu yang sangat tajam sehingga membuat kakinya tumbang di pematang sawah yang lembek seperti bubur. Kepalanya juga terbentur sebuah batu di dekat kaki saung tempat biasa ia melepas peluh.
Jerit sakit Kati tak kuasa melumpuhkan suara hujan yang kian menyalak-nyalak. Gelap juga ikut tertawa. Kekuatan yang Kati punya hanya pasrah. Malam itu Kati merasa seolah Tuhan tidur untuk pertama kalinya. Darah mengucur segar dari kaki dan kepala Kati. Air dari sawah juga munguar deras ke irigasi.
***
Sehari setelah Kati dikebumikan, tiba-tiba di pagi hari Icut sudah berseragam sekolah. Ia begitu bersemangat. Bahkan lebih semangat daripada biasanya. Karena khawatir kepada adiknya, Ati menemani adiknya berjalan menuju sekolah. Ati berhenti ketika sampai di pagar sekolah yang terbuat dari bambu yang tak diberi warna itu. Sejak Ati sekolah dasar hingga kini, tak ada yang berubah dari sekolah itu selain kian tua.