Kami pulang. Cukup dengan berjalan kaki karena blok rumah kami tidak terlalu jauh dari pusat kota. Seperti biasa pemandangan selalu terlihat menawan, lampu kelap-kelip, taman kota yang tak pernah sepi pengunjung. Bahkan ketika jam dua belas malam, kalian masih bisa mendengar para penyanyi muda melantunkan lirik-lirik lagu di taman itu.
Sehari setelah pemasangan televisi besar itu, tepat jam sepuluh siang, para petugas kota mengamankan para pedagang liar yang berkeliaran di sekitar televisi itu. Sekitar 25 orang yang ditangkap, kata penyiar berita. Para petugas sampai kewalahan, dan masih mencari-cari mereka yang berhasil kabur. Tapi, setelahnya tempat itu malah didatangi para pengemis. Kakakku malah tertawa mendengar berita itu. Aku menatapnya heran. “Dasar aneh,” batinku.
Kakakku menyeringai, “Pergilah ke rumah temantemanmu, Tom, kalau kau tak suka melihat aku tertawa!”
“Kalau sedang libur, mereka banyak menghabiskan waktu di kamar dan bermain game,” ujarku.
Kakakku tidak menjawab, masih sibuk melihat berita. Aku memutuskan pergi keluar. Hanya jalan-jalan, malas pergi ke kafe atau ke taman. Padahal hanya itu tempat favoritku. Aku masih melanjutkan perjalanan, tapi tidak tau ingin ke mana.
Aku melewati sederet pengemis di pinggir trotoar, sekitar 5 orang, dengan jarak yang agak berjauhan. Aku memberikan selembar uang 2.000-an pada salah satu pengemis. Dia menerimanya, tapi anehnya uang itu malah diberikan kepada pengemis lainnya yang wadah kecilnya masih terisi sedikit. Aku melotot, tergelak.
Seorang ibu-ibu menyeru, “Tidak perlulah, Nak, kau berikan uangmu pada pengemis tak tau mengenang budi itu! Seharusnya mereka gunakan sendiri. Sudah tau susah.”
“Kota jadi ruwet gara-gara kehadiran mereka.” Yang lain menyahut, seorang remaja.
“Sudah, biarkan saja para pengemis itu. Seharusnya kan mereka cari kerja.” Dan masih banyak cibiran yang ditunjukkan pada para pengemis, tapi mereka tetap diam, tak mau membela diri.
Aku duduk di sebelah pengemis yang memberikan uangnya tadi, sedikit berbisik, “Biarkan saja, Tuan. Tak perlu diambil hati.” Pengemis itu mengangguk pelan. Ibu-ibu yang menyahut tadi, melirikku heran.
“Iya. Tidak apa. Tapi kenapa kau memanggilku tuan?” tanya pengemis itu, nadanya sedikit keberatan. Aku rasa, mungkin ia tak suka.
“Aku sering memanggil begitu pada orang yang lebih tua, yang tidak aku kenal namanya.”
“Tuan biasanya digunakan untuk memanggil orang yang memiliki pangkat tinggi dan yang memang patut dihormati. Lihatlah, aku hanya orang jalanan.”