Tuan Pengemis

“Tidak masalah, Tuan. Orang tua yang membimbing anak muda. Jadi patut dihormati, bukan?”

Pengemis itu tertawa, menyerah dengan kata-kataku. Memangnya kenapa? Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya.

“Lihatlah televisi besar itu, Tuan. Sangat luar biasa.”

Pengemis itu hanya mengangguk. Aku menatap pengemis itu, pakaiannya kusut, jenggotnya panjang, dan tidak memakai alas kaki. Bagaimana mereka hidup dengan cara seperti ini? Di luar dingin, keras, dan tidak bersahabat. Aku pikir fisik dan batin mereka benar-benar diuji.

“Jangan menatapku seperti itu, Nak! Nanti tiba-tiba kau diberi uang oleh ibu-ibu tadi,” ujar pengemis itu tba-tiba.

Aku terkejut. “Eh, bukan begitu, Tuan.” Aku tersenyum kecil. Salah tingkah. ”Bukan begitu maksudku.”

Pengemis itu tersenyum lagi, lantas mengiyakan, “Sayang sekali, Nak, orang sepertimu hidup di zaman yang kurang bermoralitas seperti sekarang.”

Aku bingung.

“Tidak apa kalau kau tak mengerti. Tapi katakan padaku kenapa kau kemari? Apa di rumahmu tidak ada orang?” Pengemis itu bertanya padaku sembari membenarkan posisi topinya. Aku menceritakan apa yang terjadi tadi. Pengemis itu mendengar dengan seksama.

“Kau tidak takut padaku atau pengemis lain?” ketiga kalinya pengemis itu bertanya setelah ceritaku tentang hal tadi usai.

“Untuk apa? Menurutku mereka tidak jahat. Para pengemis di sini adalah para orang jujur yang tidak dihargai.”

Pengemis itu mengernyit.

“Beberapa waktu lalu, ibuku kehilangan dompet. Ketika sedang mencari, ada seorang pengemis mengembalikannya dan uangnya masih utuh. Ibuku memberikan uang padanya, tidak banyak, tapi pengemis itu malah tidak mau. Ibu memaksa dan akhirnya diterima. Kata ibu, mereka adalah orang jujur dan juga patut dihormati. Sampai sekarang aku percaya.”

Sekarang pengemis itu mengangguk. “Ibumu benar, Nak. Zaman sekarang, sebagian besar orang akan memandang pangkat, pakaian, gaya hidup. Lalu sikap dan karakter akan dipandang nomor seribu.”

Arsip Cerpen di Indonesia