Tuan Pengemis

Aku kembali menyusuri jalan kota, menuju bagian trotoar di mana pengemis itu menghabiskan sepanjang harinya. Dan ketika sampai, beberapa orang mengerubunginya. Wajah mereka terlihat tidak menyenangkan. Sedangkan pengemis itu masih duduk berdiam diri.

“Kenapa kau masih kemari? Bukankah walikota sudah memindahkanmu?” Salah seorang dari mereka berbicara, menatap sinis pengemis itu.

“Jangan memancing kawan-kawanmu datang kemari lagi! Pergilah ke tempat yang jauh. Kau hanya membuat rusak pemandangan.” Yang lain menyahut, si pengemis tetap diam.

Olok-olokan mereka semakin bising hingga mengundang banyak orang datang dan melihat perlakuan mereka. Satu persatu dari mereka mulai bertanya-tanya kenapa masih ada pengemis di kota. Para petugas datang meminta para warga pergi. Pengemis itu tetap diam, tak mau menanggapi apa pun.

“Kalian petugas seharusnya jangan membiarkan pengemis masih di kota.” Satu dari mereka mulai protes kembali. Yang lainnya ikut berbicara, tidak jelas. Terdengar seperti dengungan lebah.

“Hei, pengemis. Kau kan sudah diberikan tempat yang baik dari walikota. Apa kurang terima, ha?”

“Sudah, kalian semua pulang, biar kita yang mengatasi!” ujar salah satu petugas dengan keras. Orang-orang menurut, jalan mulai sepi, namun para petugas malah pergi. Aku coba mendekati pengemis yang masih berdiam diri.

“Selamat siang, Tuan.”

Pengemis itu terlonjak, lantas tersenyum. “Selamat pagi juga, Nak.”

“Tuan baik-baik saja?” Aku duduk di sebelahnya.

Pengemis itu mengangguk.

“Aku kira Tuan ikut bersama walikota dan anaknya ke tempat yang lebih aman. Di luar keras ternyata. Banyak orang jahat yang berpenampilan menarik.”

Pengemis itu tertawa. “Tidak. Aku masih ingin melihatlihat pusat kota.”

Aku mengangguk, menghela napas. “Aku tidak menyangka kalau orang-orang kota banyak yang seperti itu. Tidak mau menghormati orang lain. Waktu aku sekolah, aku jarang keluar rumah maupun jalanjalan sendiri seperti ini. Jadi jarang melihat sikap orang-orang luar dari tahun ke tahun.”

“Ya begitulah, Nak. Kau harus keluar dari zona nyamanmu itu. Dan melihat dunia lebih jelas.”

Arsip Cerpen di Indonesia