Aku menoleh ke arah pengemis itu, menangguk. Dia kembali melanjutkan kalimatnya, “Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Nyaris semua berubah sebaliknya, tidak sesuai yang diharapkan. Entah benar atau tidak teknologi yang mengubah mereka atau mereka yang terlalu terobsesi dengan teknologi. Tak ada namanya saling menghormati. Mereka hanya sibuk dengan kepuasan batin. Meremehkan hak orang lain. Hanya bicara, tak mau berbuat. Selama dua hari ini, banyak hal yang terjadi.”
Orang-orang mulai berdatangan kembali. Mungkin ingin tau apa yang sedang kami bicarakan. Terdengarlah suara bising, terdengar mengejek. Mereka melakukannya, lagi.
“Kemarin, kau bilang tentang kejujuran para pengemis?”
“Iya. Ada apa dengan ucapanku, Tuan?”
“Aku minta maaf. Kalau aku tidak jujur padamu.”
Aku mengernyit, bingung untuk yang kesekian kalinya.
Pengemis itu mengeluarkan sesuatu. Aku pernah melihatnya. Dia memutar tombol bagian atas, seperti berusaha menyambungkan. Tunggu, bukankah itu….
“Kau bisa menjemputku sekarang.”
Pengemis itu berdiri, aku pun ikut berdiri. “Hanya selama dua hari, semuanya nampak begitu jelas di kota ini. Dan kau, Nak. Kota ini keras, jagalah dirimu.”
Sebuah mobil putih mengilat berhenti di hadapan kami. Ada 2 orang laki-laki bertubuh besar membukakan pintu. Aku sempat terkejut karena pengemis itu mencopot janggut dan jaket lusuh yang dia kenakan. Lalu dia masuk mobil putih itu, melambaikan tangan ke arahku. Salah satu dari dua laki-laki tadi menutupkan pintu, lalu ikut masuk dan mobil itu pun melaju. Aku menatap kepergian mereka, bersama orang-orang yang nampak malu, lalu menggigit jari mereka, nampak takut. Bingung satu sama lain.
Diana Wulan Ningrum, seorang siswi berumur 16 tahun yang bersekolah di SMAN 1 Purwoharjo, Banyuwangi. Senang menulis karena senang membaca.