“Tuan mungkin benar. Waktu ujian kemarin, temantemanku juga banyak yang menyontek.” Aku mengingat kejadian beberapa minggu lalu saat ujian di sekolah. Rasa sebal masih meronta-ronta di hatiku.
Kami bercakap-cakap banyak. Mengenai suasana kota ini, mulai perkembangannya hingga sekarang. Ada kesan yang sangat luar biasa dalam percakapan ini. Kupandang langit mulai gelap.
“Tapi, Tuan. Kenapa uang yang tuan miliki diberikan kepada orang lain, Tuan tidak butuh?”
“Bukan begitu. Mereka lebih membutuhkan.”
“Memangnya Tuan tidak lapar?”
Pengemis itu menggeleng. Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi, takut menyinggung. Kami diam beberapa saat. Memandangi rintik hujan yang mulai turun membasahi sekujur tubuh. Membiarkan percik air menyejukkan hati dan pikiran yang sedang beristirahat dari segala kekerasan dunia yang kadang kala melukai hati. Aku beranjak, ini waktunya pulang.
“Kalau kau butuh teman, kau bisa datang kemari, Nak.”
Aku mengangguk. “Terima kasih Tuan mau mendengarkan aku bicara.”
“Terima kasih kembali.”
Aku melangkahkan kaki. Mempercepat langkah menuju rumah. Siang ini, aku tidak sendirian seperti tadi pagi. Rintik telah berubah menjadi hujan. Setidaknya aku bisa bersenang-sedang di bawah guyurannya, melepas penat, tanpa ada seorang pun yang tahu.
***
Siang ini, televisi besar itu membawa berita kembali. Salah satunya tentang anak walikota yang ikut membantu ayahnya mengamankan para pengemis dan membawa mereka ke tempat yang selayaknya. Tapi, para reporter tidak bisa mengetahui secara jelas wajah anak walikota yang jarang terekspos, hanya samar-samar. Anak walikota itu langsung masuk ke mobil putihnya yang bagus dan mengilat. Seluruh warga benar-benar dibuat penasaran sekaligus bahagia. Tak akan ada lagi pengganggu yang merusak pemandangan jalan. Itu salah satu komentar warga yang diwawancarai. Kota harus bersih dari pengemis, komentar orang lain. Kalau masih ada pengemis, usir saja. Dan terus berdatangan komentar semacam itu, sehingga reporter tidak mewawancarai lebih banyak orang. Menurutku, itu pengaruh yang buruk.
Satu yang ada di pikiranku, bagaimana Tuan Pengemis itu sekarang? Apa dia juga diamankan?