Demikian halnya, tanah seberang yang di maksud, pemukiman transmigran. Jadi, wajarlah pergaulan pada wajah perantau juga yang terjadi. Hanya catatan pergulatan para pendatang menyerap saripati tanah seberang. Aku mencurigai rindu mudik ini asalnya dari sana. Ketika cerita tentangnya disematkan pada kumpul bersama mengawali pagi dengan sarapan. Karena itu, sarapan lebih seru walau aroma lebaran telah surut.
Terkadang Dewi, adikku melirik tetangga dengan maksud membandingkan dengan keluarga kecil ini. Tampaknya hanya kita yang paling riuh membongkar keheningan pagi. Mereka orang-orang kompleks perumahan tak banyak cerita langsung menggeber mobilnya menembus suasana lebaran. Sedangkan, kita ke sana kemari masih meributkan kendaraan lebaran. “Pinjamlah, sewalah, pokoknya yang penting sila turahim, inilah susahnya kalau tak punya mobil,” keluh ayah sambil merenungi masa-masa pensiun.
Musim lebaran seperti ini mesti punya mobil sebab menyambut mudik hingga silturahim lebaran akan kerepotan. Tidak mudah menjemput si anak rantau ke bandara atau pelabuhan kalau tak menggunakan kendaraan memadai sebab oleh-oleh nya sejibun bagai hasil kebun. Ditambah jarak menuju rumah menembus dua batas kota ke cil yang dipenuhi kendaraan padat merayap.
Sebenarnya pikiran ayah yang demikian telah tersulut sejak lebaran lalu. Lambat laun, pemikiran itu telah menjelma menjadi semacam penyesalan. Sia-sia banting tulang jauh-jauh hingga puluhan tahun, tetapi kembali ke kampung tanpa perubahan. Bilakah bulir-bulir keringat menjadi permata? Apa perlu diaduk bersama air mata lagi? Beruntung ayah masih ingat kampung halaman. Kawan-kawan seperjuangannya telah hanyut dalam arus pensiun dan dihabisi usia lanjut di kampung orang. Mereka yang masih ingat tanah tumpah darahnya akan menepi dan banting setir mengamankan hari tua.
Karena itulah, ayah segera memutuskan kembali ke kampung, selagi tenaga masih tersisa. Walaupun, sebenarnya sudah terlambat karena baru merajut harapan demi tempat berteduh di hari tua. Padahal, masamasa ayah masih bugar, tempat tinggal bahkan yang lebih memadai dari ini pun mudah dimiliki karena tanah-tanah baru bagi pegawai aktif telah tersedia dengan jaminan. Sudah tak dapat kuhitung setiap ayah memasuki tempat baru pasti tersedia dengan rumah baru yang tidak lumutan seperti ini. Kala itu, jaminan ayah di peran tauan layaknya tuan tanah yang bebas melepas dan memiliki tanah demi pendidikan anak-anaknya. Wajarlah keluarga turut diboyong ke perantauan.
Pada akhirnya, kompleks perumahan yang nyaris mangkrak inilah menjadi pilihan. Kalau bukan sekarang, entah kapan lagi, pikir Ayahku. Tempat ini menjadi pilihan karena dinilai lebih bijak di garis tak berpihak. Tak dekat dengan keluarga Ayah, demikian pula Ibu. Bisa saja berdampingan hidup dekat dengan keluarga besar karena tanah warisan masih ada, tetapi hari tua harapannya hidup tenang, jauh dari keri butan. Rasa malu pun dipertaruhkan karena orang yang pernah merantau mestinya berpikir lapang.