Pamitan pada Masjid 99 Kubah

Satu per satu saudara telah kembali ke tanah rantau. Tak terkecuali saudara perempuanku, Dewi. Hanya aku yang kembali melewati jalur laut, melintasi Masjid 99 kubah sebagai ikon baru kota Phinisi. Seolah hanya aku yang pamitan padanya. Sembari berjanji: semoga lebaran ke depan aku masih dapat mengenal dan menghitung kubah itu dalam wiridku walaupun terpaut jarak.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Seperti biasa Ibu menanyakan kabar perjalananku. Aku terkejut mendengar kabar tentang Ayah yang turut pula mengangkat koper untuk merantau. Bukankah tidak sebaiknya dia meluruskan niat menjalani masa pensiun di kampung. Mungkin Ayah bosan dengan cerita di rumah itu sehingga bermaksud membongkarnya. Kalau demikian halnya, aku lebih kasihan pada Ibu yang ditinggal sendiri. â– 

 

Musafir Kelana. Pemilik hobi membaca dan melukis ini lahir di Atari Jaya, Sultra. Pembimbing Komunitas Puisi Santri OLSN (Olimpiade Literasi Siswa Nasional) Al Binaa Islamic Boarding School, Bekasi. Cerpennya pernah diterbitkan di harian Papua: Mudik pada Alam dan Taring-Taring Malaria. Puisi Republika: Pena Tua.

Arsip Cerpen di Indonesia