Mungkin ayah dan ibu pun memilih tempat itu agar tetap menumbuhkan benih-benih kerinduan. Karena ada mutiara kata para perantau: jagalah jarak dengan keluarga bila engkau ingin merasakan apa arti merindu.
Berusaha aku membesarkan harapan ayah. Biarlah masa-masa pensiun ini dicurahkan untuk menata keluarga kecil nan bahagia. Seperti niat awal untuk kembali ke tanah tumpah darah: rindu pulang kampung. Rerata cita-cita perantau seperti itu. Hari ini giliran aku, Dewi, dan Arlan yang mewarisi jejak ayah serta ibu menyulam napas kehidupan di negeri orang. Mungkin inilah satu-satunya warisan ayah yang masih kujalani.
Tak terasa, kini sudah hari lebaran yang keempat. Aku, ayah, ibu serta keluarga yang lain masih gelisah menanti kendaraan silaturahim. Pagi buta, keluarga merapat untuk turut serta. Jam dinding dan jam tangan sudah ditengok berkali-kali hendak memastikan mesin jam yang putus atau empunya mobil mabuk kue lebaran hingga tergelincir menembus batas waktu. Ayah dan ibu masih saja asyik bercerita untuk menghibur rasa jenuh. Episode demi episode cerita telah dilalui, tetapi mobil tak kunjung tiba.
Bila pemesanan gagal, berarti ini pembatalan yang ketiga. “Biar banyak uang, kalau mobil yang dipesan tidak ada, sama saja bohong,” lagi ayah menggerutu. “Mobil yang dipesan, sudah didahului orang lain, memang musim lebaran seperti ini, sang peminjam mesti berhubungan langsung dengan empunya mobil, bila tak ingin di telikung oleh orang lain karena tibalah masanya berlomba memesan kendaraan demi silaturahim,” pungkasku lebih menjelaskan.
Di penghujung lebaran ini kembali akan kutatap kampung dari jauh sembari melambaikan tangan dengan ucapan selamat tinggal. Koper dan oleh-oleh lebaran telah siap diboyong menuju arena pertarungan sebelas bulan. Kali ini kompetisi semakin keras karena melibatkan para perantau dari negeri asing. Mereka telah siap menggusur siapa pun yang dinilai tak siap bersaing. Makanya, tanah seberang tampak tak bertepi karena diserbu pencari kerja dari segala penjuru. Pagar pembatas harus rela diterobos untuk memaksa negeri berlari. Bahasa dan cerita tidaklah penting, lebih utama mampu bekerja sesuai dengan bulir keringat yang dihitung.
Si Bungsu, Arlan sudah siap dengan kopernya. Dia termasuk perantau debutan yang diancam oleh waktu. Bersama kawannya belajar menyusuri tol langit lewat pesawat yang suntuk di ujung waktu. Kasihan, sebagai kawan yang baru, Arlan tergantung padanya. Padahal, sikapnya yang pongah hasil dari kompetisi yang keras. Paras lebaran pun tak tampak padanya. Aku menduga dia menjadi orang asing pertama di kampungnya.