Senyum di Dalam Kanvas

“Ah, tangan ini, Ma.” Ujung jemariku menyentuh tangan dalam lukisan itu. Tangan yang memungut tubuh kecilku dari dalam kotak kardus di depan pintu sebuah ruko saat tengah malam dingin dua puluh tujuh tahun lalu. Kini aku tak lagi bisa menciumi punggung tangannya seperti saat akan berangkat sekolah dulu. Kulit tangan yang keriput dan m­ngendur itu pasti tak lama lagi akan terlepas dari tulang jemarinya. Tak apa, Ma. Itu tidak sesakit ketika Muris, anakmu yang lahir dari rahimmu walaupun kau bilang kau lupa siapa ayahnya, mengusirmu dari rumahmu.

“Pergi kau dari rumah ini orang tua bangka! Kau hanya membuat kami susah! Pergi dan jangan membawa benda apa pun dari rumah ini!” teriaknya kala itu.

“Dasar anak tak tahu diri! Ini semua hasil jerih payahku bukan kalian!” tangis mama pecah seketika dalam ruang tamu mewah yang berukir indah di setiap sudutnya. Tubuhnya sudah pasti jatuh tersungkur dari kursi roda jika aku tidak segera memeganginya.

Rumah yang dibangun dengan segala kemegahan dan kemewahan dari keringatnya sendiri. Keringat tubuh indahnya yang dia tukarkan dengan harta para lelaki binal yang keluar-masuk di rumah itu. Lelaki yang ketika memasuki rumah itu dengan wajah beragam. Ada yang berwajah seperti anjing, kucing, kerbau, dan kuda. Ada pula berwajah manusia dengan liur mengalir dari sela-sela bibirnya. Pernah juga untuk beberapa kali aku melihat lelaki berwajah manusia pada umumnya. Hanya saja tanpa ekspresi. Datar. Dingin, sedingin batu.

Entah apa yang mama lakukan kepada mereka, sehingga saat keluar dari rumah itu mereka bisa berubah menjadi lain bentuknya. Ada yang menjadi manusia kembali, tapi tak jarang hanya berganti rupa dari satu binatang ke binatang lain. Mengusir Mama tentu saja mengusirku pula. Hanya mama yang aku punya. Saat itu juga aku langsung membawanya pergi.

“Jahanam!” pekikku keras. Aku tak tahu untuk siapa makian itu, Muris atau para lelaki binal itu sama saja!

“Ada apa denganmu, Kristin?” bentak seorang perempuan setengah baya. Kumala, anak kedua yang dikandung mama tanpa kejelasan asal-muasal benihnya. Dialah penyebab mama harus menikmati kursi roda di hari tuanya. Dia terjatuh saat mencuci pakaian Kumala.

Seketika orang-orang mengerumuniku. Kualihkan pandanganku pada wajah-wajah mereka. Wajah Muris, Kumala, beberapa kerabat yang kuketahui pernah berkunjung kerumah ini. Wajah-wajah yang memasang raut kesedihan. Ingin rasanya kutarik paksa kulit-kulit wajah itu agar terpampang segala borok kemunafikan yang selama ini mereka tutupi. Wajah itu pastinya akan dipenuh belatung yang berjatuhan tanpa harus menunggu tanah membusukkannya.

Arsip Cerpen di Indonesia