Senyum di Dalam Kanvas

Entah bagaimana caranya hari ini mereka bisa mengeluarkan air dari telaga matanya. Bukankah telaga air mata menjadi tempat bersuci orang-orang yang merasa kotor jiwanya? Mungkin air mata mereka berasal dari aliran sungai tengah kota yang airnya sudah membusuk. Sebab kupikir jiwa mereka telah kerontang dihisap habis oleh ketamakan.

Hanya wajah petugas dari rumah sakit yang mengatakan mama mati karena diracun yang tidak mengenakan raut kesedihan. Mereka sudah terbiasa menghadapi orang mati. Bahkan kupikir mereka orang-orang yang bahagia ketika orang lain mengalami kesakitan dan kematian.

Segala kemewahan di rumah ini mama ciptakan tak hanya untukku, tapi juga Muris dan Kumala yang menjadi kakakku. Dia membangun singgasana megah dari lelaki berkantong tebal. Setebal keinginannya menjadi ratu di atas kerajaan bisnis pemuas senang buatannya sendiri.

“Nak, perempuan tidak butuh kuasa, mereka pencipta kekuasaan. Lelaki yang selalu butuh kuasa, sebab itu mereka mencarinya. Ingat, nak. Jangan pernah ikuti kejalanganku.” Begitu ucap mama ketika aku yang kala itu berusia tujuh tahun mengamatinya merias wajah sebelum dia menaiki singgasananya. Gincu merah menghiasi bibir tipisnya. Begitu juga dengan perona pipi yang dia pulas sedemikian rupa menutupi pori-pori kulit.

Menjelang maut menjemputnya, saban hari wajah itu kutatap lekat-lekat. Pori-pori yang kian rekah tak lagi bisa disembunyikannya. Bibir keriputnya makin berkerut. Begitu juga dengan mata sembab yang menyimpan segala misteri hidup yang dia punya.

Ah! Benar kata pepatah, serapat-rapatnya menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Bangkai tetaplah bangkai, waktu membusukkanya sambil tertawa. Begitu juga manusia, jasad yang dipinjam dari tanah ini takkan bisa disembunyikan dengan setebal apa pun topeng yang digunakan. Mati dengan damailah mereka yang saling mencintai tak hanya setubuh tapi juga sejiwa.

Sejak kulitnya mengerut, aku tak pernah lagi melihat para lelaki itu mendatangi mama. Termasuk juga lelaki yang pernah menikahi mama, kemudian mencampakkan mama.

“Aku benci dengan lelaki licik!” ucapnya sembari melempar harta benda lelaki itu keluar dari rumah. Bahkan saat mama terbaring di ranjang rumah sakit dengan segala kerumitan selang dan jarum yang menghujam kulit dan dagingnya pun, aku juga tak pernah melihat mereka menjenguk. Sekalipun hanya untuk se­kadar menyapa, “Tidak bosankah kau hidup, Nyonya?” Jika ingin lebih sombong lagi, mereka bisa mengatakan, “Hai, Nyonya jalang! Kenapa belum mampus juga?”

Arsip Cerpen di Indonesia