Senyum di Dalam Kanvas

Tak hanya para lelaki itu, Muris dan Kumala sama saja. Aku hanya mendapati mereka menatap jasad mama yang sudah terbujur di ranjang rumah sakit. Sejak aku dan mama terusir dari istana itu, Muris dan Kumala yang menduduki tampuk kekuasaan yang dibangun mama. Kami berdua akhirnya menempati sebuah rumah kecil di ujung gang tengah kota padat penduduk. Hanya air mata, seuntai kasih sayang dan sebuah kursi roda sebagai pengganti kaki mama yang kami bawa. Bahkan kudengar Kumala yang akhirnya menggantikan posisi mama di singgasana itu.

“Aku hanya ingin mati, Tin.” Ucap mama suatu ketika sembari mengusap kepalaku yang tertunduk menangisinya di rumah sakit.

“Muris. Tidakkah kau senang dengan kematian Mama?” tanyaku sembari melemparkan senyum ke arah Muris.

“Bicara apa kau ini, Kristin. Jangan lancang kau!” jawabnya dengan wajah merah padam. Semua orang yang ada di ruangan itu menatap kami. Bisik-bisik keluar dari mulut mereka. Samar-samar kudengar mereka memaki Muris.

“Tidakkah itu lucu, Ma?” kuacungkan jari telunjukku ke arah wajah Muris sembari menatap lukisan itu.

“Begitu juga kau, Kumala! Aku tahu kau sangat gembira atas kematian Mama. Tidak usah berpura-pura, Kumala.” Telunjuk dan pandanganku berpindah menuju Kumala. Makian kepada mereka makin jelas terdengar, “Dasar anak durhaka!” sorak-sorakan saling menyahut. Segala macam umpatan dan sumpah serapah menghujani mereka berdua.

“Hentikan omong kosongmu, Kristin! Kita sedang berduka,” bentak Kumala.

“Omong kosong? Bukankah mulutmu yang baru saja mengeluarkan omong kosong? Duka macam apa yang kau maksud, hah?” Mataku serasa bertambah panas, kata-katanya serasa mencekik leherku. “Bisakah orang seperti kalian berduka? Seharusnya kalian menari. Menari seperti ini. Ha…, ha…, ha…. Bajingan!” Teriakku menggema seisi ruangan. Kulangkahkan kakiku ke sana kemari membuat gerakan menari yang tak beraturan.

Mata-mata mereka makin liar menatapku. Begitu juga dengan tirai-tirai yang terjuntai indah dengan motif bunga berwarna ungu. Tiba-tiba mereka mengikutiku menari. Tubuhnya meliuk-liuk gemulai. Suara-suara sumbang pelayat kian riuh. Bahkan seluruh dinding ruangan bernyanyi mengiringi tarian kami. Suasana berkabung berubah menjadi seperti pasar.

Arsip Cerpen di Indonesia