Dua orang berseragam polisi, seorang petugas rumah sakit yang kuingat pernah kusapa saat menjaga mama, tiba-tiba memasuki ruangan.
“Ibu Kristin. Apakah ini tas Anda?” Seorang polisi bertubuh tambun menunjukkan tas berwarna biru. Aku tidak mempedulikan mereka. Kutatap mereka sekilas sembari melanjutkan tarianku bersama tirai-tirai.
“Ibu Kristin. Apakah ini tas Anda? Saya ulangi, apakah ini tas Anda?” Dia mengeraskan nada bicaranya.
“Iya, Pak. Itu milikku. Kemarilah, kita menari bersama merayakan kematian ibuku,” jawabku sembari menari.
“Apakah seluruh isinya juga milik Anda?”
“Tentu, Pak.”
“Kami menemukan tas ini tertinggal di rumah sakit beserta dengan sejumlah botol ketamine. Jenis obat yang sama dengan tim dokter temukan sebagai penyebab kematian Nyonya Sukma.”
Tanpa kusangka sebuah meja kayu dari sudut ruangan melayang dan menghantam tepat di belakang kepalaku. Aku terjerembab terhuyung-huyung. Kepalaku berdenyut hebat. Tengkorakku mungkin pecah. Sekilas kulihat Muris mengepal tinjunya dengan mata berapi-api. Sesuatu yang terasa dingin mengalir perlahan dari sela-sela rambut panjangku. Tubuhku telungkup tak berdaya bersama darah yang menggenang. Mataku serasa sangat berat dan berkunang-kunang. Perlahan pandanganku menghilang. Di dinding yang bernyanyi, samar-samar kulihat senyum tersungging dari bibir perempuan di dalam lukisan itu.
Binjai, Juni 2019