“Sekarang kita tunggu matahari tenggelam. Aku jadi penasaran seperti apa kelihatannya di luar sana. Lagian, rasa haus ini membuatku menderita.”
“Baik, Tuan.”
***
Matahari telah terpojok dikulum gelap. Draco dengan baju kebesarannya menyuruh si pelayan menunggu saja di gua. Kedua sayapnya terkepak. Ia terbang seperti kalong. Dari atas, Draco dibuat takjub. Sekian lama ia berkelana dalam kehidupan yang penuh peperangan, kali ini ia merasakan sensasi yang luar biasa.
Ia menjajal atap sebuah gedung. Melihat lebih dekat. Cahaya bekerlipan di seantero. Pohon-pohon diberi lilitan cahaya. Papan besar yang menampilkan iklan membuatnya turun.
Draco berjalan. Orang-orang memperhatikannya. Wajahnya pucat, rambut panjang, kuping panjang, baju hitam dengan kerah tinggi. Seorang penjual jagung bakar sedang mengipas-ngipas tungku.
Sambil menyesap-nyesap aroma jagung bakar, Draco mendekati penjual itu. Si penjual menawarkan jagung yang telah matang dan masih hangat, Draco menolak sambil bertanya, “Sekarang tahun berapa?”
Bukan cuma tanggal, tapi orang ini juga tidak tahu tahun berapa, kayaknya orang gila, pikir si penjual. “Masih 2019.” Mudah-mudahan orang itu segera menyingkir, pinta si penjual dalam hati.
“Oalah!” Draco menimpuk jidatnya. “Kurang ajar si Van Helsing. Mengurungku cukup lama.”
Ngomong apa orang ini, kata si penjual dalam hati. Sedikit gelisah. Takut diganggu.
Draco mendekat. Si penjual menjauh. Lalu dengan matanya, Draco membuat penjual jagung bakar itu mengikuti kata-katanya. Agak tersudut di ujung gang, Draco menancapkan gigi taringnya ke leher si wanita penjual itu. Rasanya aneh. Tapi rasa haus yang tertahan cukup lama membuat Draco menandaskannya sampai wanita itu terkapar. Tapi rasa haus itu belum menghilang.
Dengan langkah ringan, Draco menelusuri jalan-jalan di emperan pertokoan. Sambil melirik ke sana ke mari dengan rasa takjub tak tertahan. Senyum mengembang di wajahnya. Orang-orang yang menatapnya aneh, merasa orang ini kalau bukan teler mungkin baru pulang dari rumah pelacuran. Setelah melihat ekspresi orang-orang yang menatap aneh kepadanya, Draco menyadari ternyata penampilannya tidak sesuai. Penampilan orang-orang di sekelilingnya lebih terbuka dan santai. Tak ada baju zirah dan pedang.