Dengan adanya literatur yang menyatakan cara-cara melawan makhluk itu, Hery mengatur siasat. Dibantu bawahannya. Ia membaca pola pembunuhan. Dan kali ini ia yakin makhluk itu akan termakan perangkapnya.
Hery mendatangi sebuah keluarga alim dan meminta mereka mengungsi beberapa malam. “Kalian tahu teror pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini?” Mereka sepakat mengangguk. “Malam ini, mungkin penghuni rumah ini sasarannya.”
Tanpa banyak berkomentar keluarga itu langsung pergi. Hery menyuruh bawahannya memasang CCTV dan mengungsikan penghuni rumah lain. “Jaga jarak dari radius 30 meter. Dia punya penciuman kuat.”
Malam itu, Draco muncul dan hinggap di atap rumah itu. Bawahannya memberitahu. Hery sudah siap. Ia duduk di sofa sambil membaca koran. Delapan orang bawahannya bersembunyi di dalam rumah itu. Draco mengetuk.
“Masuk!”
“Draco melangkah santai sambil membuka kacamata.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Draco memperhatikan ke sekeliling rumah. “Anda sendiri?”
“Hmmm.”
“Tapi aku mencium ada delapan orang lagi di sini.”
“Sialan!” seorang petugas mengumpat.
Hery mengulang, “Ada yang bisa saya bantu?”
Perlahan Draco mendekat. Hery memasukkan tangannya ke belakang. Di genggamannya sebuah pasak perak runcing siap ditancapkan.
“Siapa kamu?”
“Hah?”
“Matamu tidak asing. Aku kenal seseorang yang mengurungku seribu tahun lalu. Mungkinkah kau itu keturunannya?! Ternyata kalian tidak mudah mati, ya.”
Hery dengan sigap mengeluarkan pasak perak dan berusaha menancapkannya. Tapi Draco mampu menahan gerakan cepat itu. Ia berusaha menghipnosis Hery dengan matanya.
“Apa? Kau mau mempengaruhiku? Kau tidak akan bisa. Ini bukan zamanmu. Kau sudah berpetualang, tapi belum mendengar adanya lensa kontak?”
Anak buah Hery langsung keluar dan menyerang Draco. Karena terlalu fokus pada serangan di belakang, Hery mengeluarkan pasak perak lainnya dan berhasil menancapkan benda itu di dada Draco.