Melewati toko kacamata, Draco masuk, planga-plongo. Mencoba satu per satu. Si pemilik toko sebagaimana senyum ramah seorang penjual, ia menawarkan kacamata yang cocok untuk orang seperti Draco.
“Bagus?”
Si pemilik toko mengangsurkan dua jempol. Lalu Draco berlalu. Saat hendak membuka pintu keluar, ia dipanggil oleh si pemilik toko. “Anda belum membayar.”
“Oh, maaf. Kebiasaan!” Draco menunjukkan senyum yang mengancam. Lantas ia menarik kepala pemilik toko itu dan menggigit di leher. Orang-orang dari luar yang menyaksikan kejadian di balik etalase kaca toko itu menggeleng-geleng.
“Dasar, homo!”
Draco masih merasakan sensasi yang sama. Darah yang dulu pernah ia minum rasanya tidak semengerikan ini. Ia menggosok taringnya beberapa kali untuk memastikan tidak ada yang berubah. Ia keluar dari toko dan masih berkeliaran.
Ia memasuki toko pakaian dan mencoba pakaian-pakaian tersebut. Foto-foto model tertempel di dinding. Draco menyukai foto model dengan pakaian jas hitam. Tak lama kemudian si pemilik toko membawa jas itu. Seperti sebelumnya, ketika merasa pas dengan keinginannya, Draco selalu hendak pergi tanpa membayar. Si pemilik toko menegur. Namun Draco malah membalas dengan sebuah gigitan. Kali ini ia merasakan darah yang dihisapnya enak. Ia menandaskan darah dari wanita di toko itu sampai kulit korbanya berkerut.
“Aahhh! Puas!” Ia menyimpulkan selama tidurnya yang panjang ia mengalami evolusi. Ada darah yang enak dan ada yang tidak. Ia terus mencari tahu penyebab perbedaan cita-rasa itu. Sampai meluangkan waktu mengintip dan mengikuti jejak calon korbannya. Tidak hanya itu, ia juga menguji tingkat baik dan buruk perilaku dari calon korbannya.
Draco akhirnya menyimpulkan darah yang baik dan enak itu berasal dari orang-orang yang baik dan jujur. Sedangkan darah yang rasanya asin kayak ingus itu adalah darah orang-orang yang punya kepribadian buruk. Ia memastikan itu seratus persen. Tidak hanya sekali dua kali ia meneror politisi. Karena ia mendengar orang-orang sering mengatakan kalau ingin cari penjahat yang sebenarnya carilah politisi. Beberapa kali ia memangsa, lebih sering merasakan darah yang tidak enak dibandingkan yang enak dari korbannya yang politisi.