“Teman siapa?”
“Ada teman bisnis.”
“Di mana?”
“Jauh, di Jalan Kaliurang.”
“Aku ikut ya….”
“Jangan, Le, besok kamu kan sekolah. Nanti saja kalau pas liburan, kamu boleh ikut.”
“Ehmm…ehmmm….” Wajahnya merengut kecewa, lalu membalikkan badan dari hadapanku, kemudian rebahan di depan tivi atau menjamah HP di meja.
Sepulang dari Jalan Kaliurang, nyaris pukul 00.00, tangan Gara-lah yang membukakan pintu garasi buatku. Wajah kecilnyalah yang kujumpai pertama kali. Suaranyalah yang pertama kali menyambutku.
“Kok belum tidur, Le?”
“Aku nggak bisa tidur.”
“Kenapa?”
“Nunggu Ayah….”
Wajah kecilnya menyunggi rekahan senyum, deretan giginya yang putih berbanjar di kelopak depanku. Lalu… Aku tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata apa saja, selain segera mengelus kepalanya, menjamah pundaknya, dan menggandengnya masuk ke depan ruang tivi atau kursi panjang di dekat dapur.
“Mau mi?”
“Mau…”
“Sebentar, ya, Ayah buatkan.”
Ia akan terus menemaniku hingga mi goreng buatanku tandas dilahapnya. Kemudian ia kuminta naik ke kasur di kamar depan, di sebelah mamanya, untuk tidur. Ia pun tidur. Bersebelahan denganku. Kerap kutindihi, dengan sengaja, semata untuk kurasakan hangat kulit tubuhnya menjalari kulit tubuhku. Pori-pori kulitnya hangat, selalu hangat, menyelam ke dalam hatiku…
Kuelus kepalanya yang berpeci hitam, kubacakan salawat beberapa kali, kutatap sekujur wajahnya dan hatiku melepas jangkar di matanya yang jernih. ’’Le, kerasan ya di sini, baik-baik sama teman-teman, ikuti semua aturan dan perintah guru-guru, ya…”
Sejumlah santri yang rata-rata sepantar dengan Gara terlihat bercanda di sekitar emperan masjid ini. Suara kaki-kaki mereka bergedebak, berlarian. Cekikikan-cekikikan berlesatan. Dan, nun jauh di sana, di kampung masing-masing, para orang tua mereka tentulah sedang mengelus dada dan kepala menanggung epitaf rindu yang tak terperikan perihnya.