“Yah, Ayah.”
“Le, dadah, assalamualaikum.” Mobilku berhenti di tengah jalan, kemacetan sejenak mengular, hingga seseorang melambaikan tangan kepadaku memberi isyarat supaya aku segera melaju. “Le, baik-baik ya, Nak…”
Kalimat terakhir yang bisa kukatakan itu merobek kembali takhta hatiku dan deraslah hujan di mataku di depan kemudi. Ini kali ketiga aku menangis di pondok. Istri dan kerabat segera naik ke mobil di tepi jalan, berseberangan dengan tubuh Gara yang masih tampak mematung di ujung teras masjid.
Aku sengaja tak menolehinya lagi. Sengaja, Le!
Ia tak boleh tahu bahwa ayahnya menangis karena kehilangannya. Toh, tak semua hal tepat baginya untuk tahu hari ini dan biarlah waktu yang kelak akan memberitahunya betapa melepaskannya di pesantren merupakan peristiwa hebat yang membuatku menginsafi satu hal perihal pernah sombongnya aku kepada Tuhan. Dulu, aku pernah berkata di depan jamaah pengajian bahwa aku pasti tidak akan meneteskan air mata seumpama di suatu masa Tuhan menakdirkanku lebih dahulu kehilangan anakku sebelum anak-anakku merasakan luka kehilanganku.
“Aku ternyata sombong sekali ketika mengatakan hal itu atas nama kukuhnya tauhidku kepada-Nya. Tapi, aku tak bohong ketika barusan berkata padamu bahwa kepergian Gara dari rumah ini adalah kehilangan yang masih mengandung harapan nyata untuk berjumpa lagi dengannya di Jumat yang akan datang, yang sungguh harapan itu tak lagi ada dalam perpisahan karena melepas kematian,” kataku kepada mama Gara.
Mama Gara terdiam, mengusap matanya yang berlinang, dan pelan-pelan kembali melanjutkan makan malamnya dengan tidak lahap. Kulihat ada Gara di piringnya, di setiap suapannya, di setiap kunyahannya, di setiap kedipan matanya, di setiap tetes air matanya. Dadaku nyeri, sangat nyeri. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya…
“Jadi, bagaimana perasaan Bapak saat melepaskan Gara saat itu?”
Kumasuki kamar Gara yang diisi 12 anak dengan langkah tergesa. Sungguh tak sabar ingin menatapinya, memelukinya. Ia tak ada di kamar!
Aku pun keluar, menaburkan pandang ke segala penjuru, mencari hatiku yang berwajah kecil itu dan senyumnya yang kuhafal sehafal-hafalnya. Selarik suara yang amat kukenal menerpaku tiba-tiba dari arah belakangku. Suara Gara!